Baru 20 Laboratorium PT yang Terakreditasi

945
Sekjen BSN, Kukuh S Ahmad(kiri) dan Kepala BSN, Bambang Prasetya menyampaikan paparan dalam Pertemuan Teknis LPK di Royal Ambarrukmo Hotel, Kamis (15/03/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Jumlah perguruan tinggi (PT) di Indonesia lebih dari 4.000 lembaga. Namun baru sekitar 20 laboratorium PT yang sudah terakreditasi.

“Di Yogyakarta, baru tiga laboratorium yang terakreditasi, baik sebagai laboratorium kalibrasi maupun laboratorium uji, yakni UGM, UII dan UAD,” ujar Kepala Badan Standarisasi Nasional (BSN), Bambang Prasetya disela Pertemuan Teknis Lembaga Penelitian Kesesuaian (LPK) di Royal Ambarrukmo Hotel, Kamis (15/03/2018). Kegiatan diikuti lebih dar i 800 LPK.

Menurut Bambang, pengurusan akreditasi laboratorium sebenarnya tidak sulit dilakukan. Biaya yang dibutuhkan relatif murah dan syarat pengajuannya pun cukup mudah.

Namun yang sering jadi kendala justru pada komitmen dari PT untuk mengurus akreditasi. Padahal akreditasi tersebut sangat penting agar hasil-hasil uji laboratorium bisa memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Agar produk yang diuji laboratorium memiliki daya saing maka perlu punya label SNI. Label ini bisa didapat bila laboratorium yang melakukan uji kalibrasi maupun laboratorium terstandar nasional juga sudah terakreditasi,” tandasnya.

Ketua Akreditasi Nasional (KAN) itu menambahkan, akreditasi memberikan kepercayaan pada masyarakat internasional akan standar produk yang kompetitif. Tidak hanya melalui pengujian namun juga inspeksi, sertifikasidan lainnya yang didasarkan pada stnadaryang diakui secara internasional.

KAN mengoperasikan 25 skema akreditasi, yaitu Sistem Manajemen Mutu (SNI ISO 9001), Sistem Manajemen Lingkungan (SNI ISO 14001), Sertifikasi Produk (Tanda SNI), Sertifikasi Personel, Ecolabel (KAN Guide 801), Sistem Manajemen Keamanan Pangan (SNI ISO 22000), Pangan Organik (KAN Guide 901), Pengelolaan Hutan Produksi Lestari, Verifikasi Legalitas Kayu, Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SNI ISO 27001), Lembaga Sertifikasi Hazzard Analytical Critical Control Point, Sistem Manajemen Mutu Alat Kesehatan (SNI ISO 13485), Gas Rumah Kaca, Sistem Manajemen Energi (SNI ISO 50001), Sistem Manajemen Rantai Pasok (SNI ISO 28000), Usaha Pariwisata, Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SNI ISO 37001), Jaminan Produk Halal, Sertifikasi Bio-Safety, Laboratorium Penguji, Laboratorium Kalibrasi, Laboratorium Medik, Lembaga Inspeksi, Penyelenggara Uji Profisiensi, dan Produsen Bahan Acuan.

Sementara Sekjen BSN, Kukuh S Ahmad mengungkapkan, untuk meningkatkan komitmen PT dan lembaga lain dalam mengurus akreditasi laboratorium, BSN melakukan pembinaan dan pendampingan, termasuk dalam pengembangan laboratorium terpadu. Pendampingan dilakukan dalam kesiapan manajemen mutu, keamanan pangan dan lainnya.

“Selain itu ada piloting laboratorium yang sudah terakreditas untuk membantu pengembangan laboratorium lain,” imbuhnya.(yve)