Dlingo, Sejuta Pesona Yang Memikat

431

Keindahan pagi dengan kabut putih menjadi daya tarik di lokasiwisata puncak Kebun Buan Mangunan (istimewa)

Dlingo adalah nama sebuah kecamatan yang berada di sisi tenggara pusat Kota Bantul dan berada pada ketinggian 320 meter di atas permukaan laut. Ada enam desa masuk wilayah yang kini dipimpin oleh Camat Tri Tujiana AP MM ini. Keenam desa tersebut adalah Temuwuh, Terong, Dlingo, Jatimulyo, Muntuk serta Mangunan. Kecamatan Dlingo berbatasan dengan Kecamatan Patuk di sisi utara, dan Kecamatan Playen di sisi timur dan selatan serta Kecamatan  Imogiri dan Pleret di sisi barat.

Memiliki wilayah berbukit dan bergunung-gunung dengan aliran sungai yang deras, ditambah lebatnya hutan pinus dan jenis tanaman lain, menjadikan Dlingo menyimpan berjuta potensi dan pesona keindahan alam yang memikat. Selain keindahan alam, potensi lainnya adalah kerajinan dan kuliner.

“Untuk menuju ke Dlingo masyarakat atau wisatawan juga tidak perlu bingung, karena akses jalanya relatif sudah bagus dan mudah untuk dilalui,” kata Camat Dlingo, Tri Tujiana AP MM kepada Koran Bernas.

Akses itu melalui Jalan Wonosari (Patuk) berbelok ke kanan dari arah Kota Jogja, atau melalui Jalur Cino Mati jika dari arah Pleret dan dari Jalan Imogiri langsung masuk ke Mangunan. Berdasar pantauan Koran Bernas, jalur ke Kecamatan Dlingo sudah relatif mulus. Hanya saja di beberapa tempat memang masih sempit, apalagi jika harus berpapasan dengan bus ukuran besar.

Bupati Bantul, Drs H Suharsono, Ketua DPRD Bantul Hanung Raharjo, Wakil Ketua Dewan Hj Arni Tyas Palupi ST, anggota komisi A DPRD Bantul Amir Syarifudin dan rombongan mencoba track wisata menantang dengan jip di wilayah Dlingo beberapa waktu lalu. (istimewa)

“Nantinya, akses jalan ke Dlingo ini akan ada pelebaran dan telah dianggarkan pada tahun 2018 mulai Imogiri hingga masuk daerah Kaliurang, Dlingo. Lebar jalan yang semula 4-5 meter akan menjadi lebar 7 meter,” kata Tri.

Harapannya, akses jalan yang diperlebar itu akan memudahkan wisatawan berkunjung ke Dlingo, sehingga tingkat kunjungan juga terdongrak. Muaranya tentu  peningkatan kesejahteraan dan menekan angka kemiskinan di wilayah  dengan jumlah penduduk 36.514  jiwa tersebut.

Ketika berkunjung ke wilayah dengan luas 3.797,803 hektare itu, wisatawan akan disambut dengan hijaunya alam khas pegunungan. Papan petunjuk tempat wisata juga banyak dipasang di tepi jalan, sehingga memudahkan untuk menjangkau pilihan wisata yang dimaksud.

“Ada 25 titik destinasi wisata yang ada di wilayah Dlingo dan jumlahnya terus bertambah. Karena kreativitas dan inovasi masyarakat juga terus terasah,” katanya.

Salah satu destinasi wisata yang baru lahir adalah eco wisata Jatisari yang berlokasi di Dusun Seropan III, Desa Muntuk. Saat ini eco wisata Jatisari masih dalam tahap penyempurnaan dan pembangunan. Namun demikian wisatawan sudah mulai berdatangan, karena tempat ini menyajikan panorama alam yang indah. Ada spot-spot foto yang sengaja dibuat oleh pengelola yakni Pokdarwis setempat, sehingga lebih menarik kedatangan wisatawan.

Terdapat pula goa dengan panjang hampir 500 meter dengan tinggi 1,5 meter dan lebar 2 meter serta ada aliran sungai di dalamnya. Namun Goa ini  belum dipasang lampu atau penerangan yang cukup, sehingga wisatawan tidak berani menyusuri dalamnya hingga ke ujung yang bermuara pada jalan  pedusunan. Beberapa kelompok pecinta alam sudah menjajal rute dan keindahan goa ini.

“Paling wisatawan berfoto di mulut goa saja karena memang dalamnya gelap. Nanti tentu akan ada pemasangan lampu dan penyempurnaan,” kata Mulyono, pekerja yang ikut membangun di eco wisata Jatisari sejak setengah tahun silam.

Menurutnya pembangunan yang didanai Dana Desa tersebut saat ini mulai menggarap MCK, jalan menuju ke goa, lokasi parkir dan tempat selfie berupa gubuk-gubuk bambu. Dari tempat inilah wisatawan akan melihat keindahan alam pegunungan dari ketinggian serta sungai Oya yang bekelok-kelok bak naga raksasa di antara lebatnya pepohonan. Sungguh panorama yang membuat decak kagum. Hanya saja karena masih tahap penyempurnaan, jalan masuk ke lokasi juga masih sempit dan licin, apalagi ketika hujan turun.

Obyek wisata lainnya yang layak dikunjungi dan sudah mendunia adalah Puncak Becici dimana Presiden AS ke 44 Barack Obama dan keluarga pernah berkunjung ke tempat ini beberapa waktu lalu.  Juga jajaran hutan pinus yang menampilkan pesona alam khas.

Obyek wisata lain yang tak kalah menarik adalah Watu Mabur yang berada di Goa Gajah, Dusun Lemahabang, Desa Mangunan. Wisata ini tergolong baru dan memiliki spot yang luas dan nyaman serta asyik untuk berkemah. Bahkan disediakan jasa penyewaan tenda.

Masih di kawasan Mangunan, ada juga obyek “Seribu Batu Songgo Langit”. Sesuai namanya, di tempat ini terdapat banyak batu-batu raksasa. Di tempat ini kita akan disuguhkan pemandangan  batu besar, berpadu dengan kawasan hutan pinus yang sangat menawan terkesan alami. Di tempat ini pula ada beberapa spot foto unik, rumah kayu, rumah Hobbit, jembatan kayu dengan aneka tulisan lucu dan memotivasi serta spot lain yang semua harus dicoba.

Salah satu spot wisata di eco wisata Jatisari. (eru/koran bernas)

Terdapat juga wahana Flying Fox sebagai permainan yang memacu adrenalin. Juga ada spot tebing yang bagus untuk climbing  serta spot khusus bagi pemanjat tebing yang sudah berpengalaman.

Tidak jauh  dari tempat itu, ada obyek wisata Jurang Tembelan  yang menyajikan spot unik yakni ‘kapal bambu’ di atas bukit. Orang sering menyebutnya ‘kapal titanic’.

“Tentu wisata di Dlingo itu masih banyak dan beragam. Jadi silahkan datang ke Dlingo, karena semuanya indah,” kata Yuli Hernadi SE, Sekcam Dlingo. (eru)