Ki Sindu Usung Lakon Wahyu Cakraningrat

308
Dalang Ki Sindu mementaskan  wayang lakon Wahyu Cakraningrat dalam rangka grebeg Makukuhan  Kedu. (endri yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Warga Desa Kedu Kecamatan Kedu menggelar pentas hiburan kesenian wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Grebeg Makukuhan, Minggu  (01/07/2018) malam di komplek makam Ki Ageng Makukuhan desa setempat.

Wayang  dengan lakon Wahyu Cakraningrat kali ini dibawakan oleh dalang Ki Sindu dari Desa Tening Kecamatan Wonoboyo.

Pergelaran diawali penyerahan gunungan oleh Penjabat Kepala Desa Kedu, Agus Sulistiyo kepada dalang Ki Sindu disaksikan para pejabat terkait dan masyarakat pecinta seni wayang kulit.

Ketua Panitia, Tito Riyono, mengatakan pentas wayang kulit merupakan agenda penutup dari seluruh rangkaian acara  jelajah wisata budaya dan Grebeg Makukuhan tahun 2018.

Berbagai  kegiatan yang sudah dilaksanakan di antaranya pengajian khaul akbar dan kirab budaya yang mengarak gunungan hasil bumi, replika flora fauna dan atraksi  kesenian tradisional.

Acara tersebut dilaksanakan  guna mengenang  jasa-jasa Ki Ageng Makukuhan sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Kedu.

Dalang Ki Sindu  menuturkan  cerita wayang yang dipentaskan mengisahkan raja-raja jagad pewayangan yang memperebutkan Wahyu Cakraningrat.

Siapa pun yang menguasainya diyakini memberi kuasa atas wilayah timur hingga barat dan utara sampai selatan. Namun, tak mudah memperoleh wahyu yang hanya akan turun ke manusia terpilih.

Menurut Tito Riyono, kompetisi, strategi dan penaklukan ternyata bukan satu-satunya cara memperoleh Wahyu Cakraningrat.

Dalang Ki Sindu  menceritakan Raden Samba yang mewarisi pengetahuan ramanya, Prabu Kresna, harus memperoleh Wahyu Cakraningrat itu dengan siasat apapun, namun bijaksana.

Lain Raden Samba lain pula cara Raden Lesmana Mandrakumara. Baginya, dengan cara bagaimana pun yang penting wahyu ini harus didapatkan, dengan catatan harus terkesan sportif.

Bagaimana dengan Raden Abimanyu? Dia yang juga sempat merasakan bagaimana dulu ramanda dan paman-pamannya (Pandawa) dipecundangi, dikhianati dan dikucilkan oleh trah Kurawa.

Dia mencoba menyikapi hal ini dengan lebih berhati-hati. Pada akhirnya, tak satu pun berhasil. Wahyu Cakraningrat hanya akan merasuk ke satria  yang bersih lahir batin, cerdas dan tahan godaan, berbudi luhur serta kepekaan sosialnya tinggi.

Camat Kedu  Agus Sri Sudaryanto  mengatakan  pentas wayang kulit  dengan mengusung  cerita filosofi Wahyu Cakraningrat  dinilai sangat pas mengingat tahun ini  merupakan  tahun politik.

Sebagaimana diketahui pada 2018  ada agenda pemilihan kepala daerah yakni  Pilgub/Wagub Jateng dan Pilbup/Wabup Kabupaten Temanggung.

Inti cerita Wahyu Cakraningrat adalah, perebutan kekuasaan yang sepenuhnya dilakukan sesuai etika, manusiawi dan disertai kesadaran mengedepankan kebersamaan perilaku, bukan perilaku zalim dan tak bermoral.

Dengan demikian Pilkada bisa berjalan kondusif sukses tanpa ekses, masyarakat tetap rukun bersatu  dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. (sol)