Kumpul Seniman Jogja, Cak Imin Tak Kuat Tahan Tawa

298
Wakil Ketua MPR RI, Muhaimin Iskandar, menyerahkan cenderamata untuk seniman, Jumat (13/04/2018) malam di Angkringan JAC Pendopo Ndalem. (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Calon wakil presiden (cawapres) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin benar-benar tidak kuat untuk menahan tawanya saat berkumpul dengan para seniman dan budayawan Yogyakarta.

Wakil Ketua MPR RI itu justru menemukan kegembiraan luar biasa tatkala menghadiri acara Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, Kebudayaan adalah Panglima, Guyon, Guyub & Dialog, Angkringan JAC Pendopo Ndalem, Jumat (13/04/2018) malam.

Duduk lesehan bersama budayawan Eros Djarot, Cak Imin menerima curhat dari para seniman, mulai dari soal film hingga kondisi Yogyakarta saat ini.

“Itu tadi pertanyaan atau proposal,” kelakar host acara itu, Awang Anang Alit dari Seloso Selo.

“Minta bantuan pemerintah, siapa tahu jadi wapres,” kata Fajar Nugros, sutradara.

Penampilan Awang, Anang dan Alit memang mengocok perut peserta sosialisasi yang dikemas dalam bentuk dialog dan hiburan tersebut.

Menurut mereka bertiga, saat ini Kota Yogyakarta sudah bersih dari geng klithih. Sebab geng klithih yang asli sudah digantikan oleh geng klithih syariah, menghentikan orang di jalan agar mau beribadah salat. “Stop. Ayo salat dulu. Wudu dulu,” ungkapnya.

Cak Imin bersama Eros Djarot. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Giliran Eros Djarot tampil menyampaikan sambutan, dia mengakui kepiawaian Awang Anang dan Alit. “Melihat tiga makhluk cerdas ini, mereka bertiga, Indonesia sebenarnya nggak ada problem. Bayangkan,  Ketua MPR RI digoreng nggak marah. Kenapa? Karena Cak Imin sudah mengatakan kebudayaan adalah panglima,” kata Eros.

Menurut dia, kebudayaan itu memuat substansi senyum. Berbeda dengan politik yang mengerikan. Berbeda pula dengan ekonomi yang mengajar bandha (harta) kalau perlu teman sendiri dimakan.

Eros menegaskan, kebudayaan merupakan alat yang tepat untuk memimpin. “Ini suasana yang indah, duduk bersama. Ketawa. Kita dorong keinginan Cak Imin menjadikan kebudayaan sebagai panglima,” ajak Eros Djarot.

Mengutip pernyataan Gus Dur, dia mengatakan seorang politisi apabila maqom-nya sudah tinggi maka tak bersikap methenteng.

Selain musisi Syaharani, acara malam itu juga dimeriahkan penampilan Moammar Emka (vovelis), Sri Krishna, Ki Catur Benyek & Wayang Hip Hop, Kinara Band dan lain-lain.

Wayang Hip Hop menghibur peserta Sosialisasi Empat Pilar. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dalam sambutannya, Cak Imin antara lain mengatakan pentingnya kebudayaan dijadikan sebagai panglima untuk mengelola politik di negeri ini.

Saat ruang publik dan sosial terasa hiruk pikuk dengan tensi yang sangat tinggi, kebudayaan menjadikan suasana kembali menjadi tenang dan nyaman. Empat pilar Indonesia bahkan menjadi lebih kuat dengan hadirnya kebudayaan.

“Mulai malam hari ini, budaya harus jadi panglima di Indonesia, inilah saatnya untuk mengembalikan daulat rakyat sebagai panglima nusantara,” ujarnya. (sol)