Obat Herbal Berbasis Tanaman Lokal Mulai Dilirik

494
Penyerahan SK Kopertis Wilayah V DIY ke Stikes Akbid Yo , Sabtu (26/8/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Indonesia kaya dengan tanaman obat lokal. Namun hingga saat ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal.

“Bahkan sudah banyak negara ingin memanfaatkannya. Jangan sampai sumber daya alam malah dikembangkan pihak asing,” ungkap Kepala Program Studi (Kaprodi) Farmasi Stikes Akbid Yo, Happy Elda Murdiana disela penyerahan SK Kopertis Wilayah V DIY di kampus setempat, Kamis (24/8/2017).

Karena itulah, menurut Happuy, prodinya akan berusaha melakukan penelitian dan pengembangan tanaman obat menjadi obat herbal. Tren pengobatan sekarang dan yang akan datang menggunakan tanaman-tanaman yang hidup di Indonesia.

Hal itu didukung perubahan status dari akademi menjadi sekolah tinggi membawa konsekuensi bagi Stikes Akbid Yo. Salah satu program studi baru yakni S1 Farmasi berusaha mengembangkan obat herbal berbasis tanaman-tanaman yang ada di Indonesia.

“Jumlahnya tanaman lokal mencapai ribuan dan baru sebagian kecil yang dimanfaatkan. Prodi kami mencoba ikut berperan untuk mengembangkan pemanfaatannya secara maksimal,” jelasnya.

Hal senada disampaikan Ketua BPH Yayasan Bhakti Sosial, Henri Soekirdi yang mengatakan, kekayaan alam tanaman obat memang luar biasa. Sejumlah negara melirik kekayaan alam Indonesia dan berusaha mengambil serta mengembangbiakkan tanaman obat di negaranya.

“Oleh karena itu, kampus yang bergerak di bidang kesehatan harus mulai mengembangkannya,” ujarnya.

Sementara Kaprodi Manajemen Informasi Kesehatan, Rawi Miharti mengungkapkan, selain berupaya mengembangkan tanaman obat melalui Prodi Farmasi, Stikes Akbid Yo juga menambah prodi baru yakni Manajemen Informasi Kesehatan. Banyak lembaga kesehatan, rumah sakit, klinik-klinik yang belum menerapkan manajemen rekam medis yang baik.

“Baru sedikit sekali yang melakukan manajemen pendataan secara digital dan interkoneksi. Kami berusaha mengembangkannya supaya kelak tenaga-tenaga ahli manajemen informasi kesehatan dapat membuat pendataan yang bagus dan dapat terkoneksi dalam satu jaringan, tak hanya lokal tapi nasional,” paparnya.

Idealnya data kesehatan atau rekam medis berada dalam satu data besar nasional. Ketika seseorang sakit dan memeriksakan dirinya di rumah sakit mana saja dapat keluar data rekam kesehatannya. Ini mempermudah proses pengobatan karena tenaga medis bisa mengetahui data pasien dari mana pun asalnya.

Meskipun mengembangkan dua prodi baru tersebut, Stikes Akbid Yo tidak melupakan kebidanan sebagai basisnya. Tahun depan kampus akan membuka program profesi kebidanan sesuai dengan tuntutan pemerintah.
“Lulusan kebidanan harus mengikuti program itu sebagai syarat bekerja atau membuka praktik,” imbuhnya (yve)