Pemprov Tunggu Usulan RTM Penerima Bantuan Penanggulangan COVID-19

16
Ilustrasi

KORANBERNAS.ID, BANDUNG —Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat akan menggelontorkan anggaran Rp 3 hingga Rp 5 triliun rupiah, untuk bantuan senilai Rp 500 ribu/bulan bagi keluarga rawan miskin baru terdampak COVID-19.

Bantuan Rp 500 ribu yang rencananya diberikan selama dua bulan dan maksimal empat bulan ini, satu per tiganya berupa tunai. Sisanya adalah bantuan dalam bentuk bahan pangan.

Untuk itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jabar sekaligus Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Coronavirus Disease 19 (COVID-19) Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja, meminta bupati/wali kota 27 daerah di Jabar untuk melakukan tiga hal lewat Surat Pemberitahuan Nomor 400/1763/BAPP yang ditandatangani pada 31 Maret 2020.

Pertama, Setiawan meminta bupati/wali kota untuk melakukan pemadanan data by name by address Rumah Tangga Miskin (RTM) dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DKTS) Tahun 2020 kepada Dinas Sosial masing-masing.

“Data RTM dalam DKTS Tahun 2020 ini akan disampaikan kepada pengelola DKTS 2020 Kabupaten/Kota secara online,” ucap Setiawan di Kota Bandung, Kamis (2/4/20).

Kedua, lanjut Setiawan, kepala daerah diminta menyampaikan prelist data non-DKTS by name by NIK (Nomor Induk Kependudukan) RTM terdampak COVID-19, dengan kriteria sebagai pekerja berpenghasilan harian baik ber-KTP Jabar maupun luar Jabar.

“Ada beberapa bidang pekerja. Yaitu satu, pekerja di bidang perdagangan dan jasa. Dua, di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan budidaya, dan tangkap. Tiga, di bidang pariwisata. Empat, di bidang transportasi. Lalu lima, pekerja di bidang industri. Kelima pekerja itu semuanya yang berskala usaha mikro dan kecil. Kemudian kriteria keenam, yaitu penduduk yang bekerja sebagai pemulung,” katanya.

Selanjutnya, Setiawan juga menyampaikan arahan, agar usulan tersebut disampaikan paling lambat Senin, 6 April 2020 secara online.

Setiawan memastikan, pemberian bantuan bagi keluarga rawan miskin baru terdampak COVID-19, dilakukan secara tepat dengan merujuk hasil pemadanan data by name by address RTM dalam DKTS Tahun 2020 dan prelist data non-DKTS by name by NIK RTM terdampak COVID-19.

“Hal ini dalam rangka penanganan dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi di Jabar, kepada masyarakat miskin yang belum menerima bantuan sosial pangan serta masyarakat rentan miskin berdasarkan DKTS 2020,” kata Setiawan.

Dikatakan, bantuan tidak diberikan bagi penerima Kartu Sembako dan PKH yang selama ini rutin mendapatkan bantuan dari APBN.

Setiawan mengatakan, Pemdaprov Jabar melalui Dinas Sosial Provinsi Jabar memantau dengan ketat pemadanan data tersebut, agar bantuan sosial pangan bisa tepat sasaran, merata, dan tidak ada warga yang menerima bantuan ganda.

“Jadi memang betul-betul yang menerima bantuan ini adalah pekerja yang sesuai kriteria dan data dibuat secara objektif oleh masing-masing kepala daerah,”ucap Setiawan.

Dalam rapat terbatas bersama Presiden Republik Indonesia melalui video conference di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (2/4), Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyatakan, insentif sebesar Rp 500 ribu berbentuk tunai dan bahan pangan merupakan upaya Pemdaprov Jabar dalam mendukung bantuan pemerintah pusat kepada masyarakat miskin terdampak COVID-19.

“Sesuai arahan Presiden, kita harus kompak. Kalau 25 persen terbawah ekonomi sudah diberikan kartu sembako dan Kartu PKH oleh pusat, maka Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat akan meng-cover golongan 25 sampai 40 persen ekonomi terbawah dengan memberikan insentif sebesar 500 ribu,” kata Kang Emil.

Saat ini, bantuan belum diterimakan karena Pemprov masih menunggu hasil pendataan.

“Pastikan awasi pendataan ini, jangan sampai orang yang mampu kemudian mengambil jatah orang yang sebenarnya tidak mampu,” katanya. (*)