Setelah Pensiun Perusahaan Tak Lagi Peduli

659
Keluarga wartawan yang sudah tiada foto bersama dengan pengurus dan anggota PWSY. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY), Jumat (09/02/2018), menggelar doa bersama bagi arwah wartawan pejuang pers yang telah mendahului.

Acara bertajuk Mereka Berpulang Kami Mengenang itu sengaja dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 sebagai bentuk kepedulian wartawan sepuh yang masih hidup kepada para almarhum.

Umumnya, perusahaan tempat bekerja para pejuang pers itu tidak lagi peduli. “Setelah pensiun dari wartawan tidak ada lagi perusahaan yang peduli, baik ketika yang bersangkutan sakit bahkan meninggal dunia,” kata Drs Sugeng Wiyono AI, dalam sambutannya mewakili Pangarsa Abdi Dalem PWSY, Drs Oka Kusumayudha, yang berhalangan hadir karena sakit.

Begitu pula, pemerintah sepertinya tidak peduli dengan pejuang dari kalangan jurnalis. Bentuk perhatian ini sangat berbeda dengan kalangan seniman dan budayawan, selain memberikan perhatian pemerintah juga memberikan penghargaan.

Padahal banyak karya jurnalistik para wartawan yang tidak kalah pentingnya bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bangsa dan negeri ini. Sehingga ke depan diharapkan pemerintah juga bisa memberikan penghargaan yang sama.

Maka, dengan inisiasi sendiri kalangan wartawan sepuh bergabung bersama menjalin silaturahim, serta berbuat sesuatu sebagai salah satu bentuk pengabdian jiwa wartawan yang tidak pernah mati.

Pagi itu, suasana pendapa utama Rumah Budaya Tembi Panggungharjo Sewon Bantul hening ketika secara bergantian Maria Kadarsih, Iman Santosa dan Arieyanto membacakan nama-nama wartawan Yogyakarta  yang telah meninggal dunia.

Sesekali terdengar gumam, ”Lho, sudah tiada ta? Jumlah itu masih dimungkinkan bertambah lantaran ada yang belum tercatat di PWSY.

Doa secara agama Islam kali ini dipimpin H Soeparno S Adhy. Sedang secara agama Katolik dan Kristen dipimpin Drs Sugeng Wiyono. Suasana haru menyelimuti, apalagi ada di antara puluhan keluarga almarhum yang hadir tak mampu menahan isak tangisnya.

Di antara janda wartawan yang hadir, Ny Tatik Wardiyono dan Ny Habib Bari. (istimewa)

Lengkap paripurna

Tokoh yang sudah berpulang, menurut Soeparno S Adhy, merupakan sosok angkatan jurnalis lengkap dan paripurna. Jurnalis seangkatan Pahlawan Nasional Ki Hadjar Dewantara yang idealis dan visionaris.

Atau, jurnalis pelopor seangkatan Mr Soemanang yang dedikatif dan inspiratif, pendiri organisasi kewartawanan nasional Indonesia, PWI. “Dan jurnalis angkatan sesudahnya sebagai jurnalis penegak yang Insya Allah tetap memelihara idealisme, menjaga dedikasi,” kata Soeparno.

Jurnalis angkatan Ki Hadjar Dewantara dan Mr Soemanang disebut sebagai guru dan mahaguru. Karena mewariskan ilmu, jiwa dan semangat keteladanan.

Doa juga dipanjatkan untuk almarhum Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang gugur saat menjalankan tugas jurnalistiknya. Hingga kini pembunuhnya belum tertangkap sehingga masih menjadi utang bagi wartawan yang masih bisa memperjuangkannya.

Sedang Drs Purwadmadi dalam renungannya menyebut kegiatan ini sebagai ziarah kultural tanpa tabur bunga.

Ny Tatik Wardiyono, janda alm Wardiyono juru kamera TVRI Jogja atas nama keluarga wartawan yang telah tiada merasa terharu atas perhatian yang diberikan oleh PWSY.

Momentum ini menggugah kenangan betapa beratnya kerja wartawan yang harus dilaksanakan penuh tanggung jawab dan perlu dukungan istri beserta keluarga.

Acara ini baru pertama kali digelar dan ke depan dijadwalkan dengan lebih terencana. Setidaknya ada 160 nama wartawan yang sudah meninggal. (sol)