Target Tak Pernah Tercapai, Dinas Cek Potensi Pasar Tradisional

372
Salah seorang petugas dari Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM saat berbincang-bincang dengan salah seorang pedagang Pasar Senggol. (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORAN BERNAS, ID —Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Klaten menyebar pegawai ke seluruh pasar untuk mengecek potensi yang ada di pasar tersebut. Selanjutnya hasil dari pengecekan itu akan dijadikan dokumen untuk mengajukan target pendapatan sektor pasar di tahun yang akan datang.

Sebab dalam perkembangannya di Kabupaten Klaten ada beberapa pasar yang kondisinya sudah tidak aktif lagi karena jumlah pedagang yang hanya satu dua orang saja. Namun pasar ini masih saja dibebani target.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Pasar Dinas Perdagangan Koperasi dan UMKM Bambang Budi Susilo mengatakan hasil dari pengecekan itu akan jadi dokumen gambaran tentang pendapatan pasar se Kabupaten Klaten.

“Tujuannya untuk mengetahui kondisi riil pasar seperti apa. Nanti akan dijadikan dokumen untuk tahun-tahun yang akan datang,” katanya, Senin (02/10/2017)

Pada tahun 2016, pendapatan sektor pasar ditarget Rp 4,2 miliar dan terealisasi hanya Rp 4,1 miliar atau 99 persen. Sedangkan di tahun 2017 target sektor pasar sebesar Rp 4,3 miliar dan hingga Agustus sudah terealisasi Rp 2,7 miliar atau 62,46 persen.

Saat ditanya penyebab tidak tercapainya target tersebut diantaranya karena kondisi pasar yang sepi dan bersaing dengan pedagang asongan yang keliling ke rumah maupun perkampungan penduduk.

Senada diungkapkan Kepala Unit Matahari Plasa Warsita. Kepada koranbernas.id, dia mengakui banyaknya pedagang asongan yang menjajakan dagangannya ke rumah-rumah membuat warga jadi malas ke pasar.

“Sekarang warga cukup menunggu di rumah. Pedagang sudah ada yang datang dan keliling kok. Pedagang sayur yang mengendarai sepeda motor dan bronjong semakin banyak jumlahnya,” ujarnya.

Kepala Unit Pasar Gentongan Suroso menjelaskan sekarang ini kondisi pedagang pasar tradisional sungguh memprihatinkan. Selain karena pedagang yang sudah tua tidak punya generasi penerus untuk berdagang di pasar juga dikarenakan munculnya pasar modern di sejumlah daerah.

Menyinggung potensi pasar yang dipimpinnya, Suroso mengaku membawahi 4 pasar yakni Pasar Gentongan, Totogan, Pasar Senggol dan Pasar Mayungan. Target pendapatan sektor pasar di wilayahnya sebesar Rp 150 juta dan terealisasi Rp 130 juta atau 92 persen

“Ada kecenderungan sekarang ini pedagang yang sudah tua tidak punya generasi penerus untuk jualan di pasar. Ini yang mempengaruhi potensi pasar,” jelasnya saat ditemui di Pasar Senggol Desa Candorejo Kecamatan Ngawen.

Salah seorang pedagang, Darsini yang ditemui disela-sela menerima kunjungan petugas cek potensi pasar mengatakan dirinya setiap kali berjualan di pasar senggol hanya dibebani biaya retribusi Rp 500. “Kalau berjualan ya ditarik retribusi. Tapi kalau tidak jualan ya tidak bayar,” kata warga Desa Meger Kecamatan Ceper itu. (SM)