Takmir Masjid Harus Jadi Penangkal Radikalisme

141
BWI Purbalingga menggelar Sosialisasi Peran Takmir/Nazir dalam Meneguhkan Fungsi Masjid sebagai Penangkal Radikalisme dan Politisasi Masjid di Aula Uswatun Khasanah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Purbalingga, Rabu (28/3/2018). (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ketua Perwakilan Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kabupaten Purbalingga, Kiai Akhmad Khotib menegaskan, masjid atau tempat ibadah lainnya dinilai menjadi tempat strategis, karena bisa dipastikan banyak massa di tempat tersebut. Karena itu, tempat ibadah kerap menjadi sasaran bagi oknum untuk penyebaran radikalisme dan politisasi.

Sebagai antisipasinya, diharapkan ada pengendalian organisasi dan program masjid, sehingga bisa kembali menjalankan fungsi masjid yang sebanarnya. Takmir masjid sebagai pengelola organisasi masjid harus memiliki pengetahuan tentang ajaran radikalisme sehingga mampu menangkalnya.

“Masjid itu sebagai episentrum dinamika masyarakat, sehingga para nazir, takmir sampai jamaah bisa menyadari masjid adalah tempat kehidupan masyarakat baik rohani maupun jasmani, menjaga ketenangan, menjaga dinamika,” kata Akhmad Khotib saat acara sosialisasi Peran Takmir/Nazir dalam Meneguhkan Fungsi Masjid sebagai Penangkal Radikalisme dan Politisasi Masjid yang digelar oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI) Kabupaten Purbalingga di Aula Uswatun Khasanah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Purbalingga, Rabu (28/03/2018).

Baca Juga :  10 Keluarga di Sengir Akan Direlokasi

Para pelaku radikalisme itu sering bersimbiosis, berpura-pura, menempatkan diri sebagai tokoh masjid, tokoh agama dan pada ujung-ujungnya mencari massa. Contohnya, dari jamaah masjid sudah dikendalikan oleh radikalisme, itu bisa sampai anak-istri bisa seperti itu, jadi bukan hanya strategis tapi bahkan sebagai episentrum dinamika masyarakat.

“Kami menghimbau sebagai takmir harus bisa memilah-milkah, mana kegiatan pokok dan kegiatan lain. Selain itu, kita tahu tahun ini tahun politik, kami pesan jangan sampai masjid untuk acara politik. Masjid hanya untuk pusat kemajuan agama, kemajuan masyarakat dan kemajuan bangsa bernegara,” katanya.

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Purbalingga, Karsono mengatakan, selain untuk ibadah, fungsi masjid digunakan untuk tempat musayawah, pendidikan, dan pengobatan. Hal itu sudah dicontohkan sejak zaman Rosululloh SAW. Sebagai takmir harus bisa memisahkan kegiatan yang akan dilaksanakan di masjid, sehingga dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti penyebaran ajaran radikalisme dan sarana politik.

Baca Juga :  Raisa Hipnotis Puluhan Ribu Warga Temanggung

Pemerhati budaya lokal Purbalingga, Agus Sukoco mengatakan, masjid harus dijaga sakralitasnya. Nilai masjid yang harus memengaruhi perilaku politik, bukan hawa politik yang memengaruhi masjid. Peran takmir masjid adalah menjaga masjid dari gangguan angin jahat politik dan radikalisme. (yve)