Perda Ini Diakui Tidak Seksi

159
Danang Wahyu Broto dan Lutfi Hamid menyampaikan keterangan pers, Rabu (18/07/2018) di DPRD DIY. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Jajaran DPRD DIY mengakui Peraturan Daerah (Perda) tentang Ketahanan Keluarga yang disahkan melalui Rapat Paripurna Rabu (18/07/2018) tidak seksi, setidaknya dibanding perda-perda lainnya yang sudah disahkan sebelumnya.

Namun demikian, para anggota dewan yang duduk dalam Panitia Khusus (Pansus) perda tersebut juga mengakui ada nuansa kebatinan yang bergairah, tatkala mengikuti proses pembahasannya sejak awal Maret silam.

“Raperda ini tidak seksi. Di telinga ini (seperti) apa? Tapi konten perda ini langsung sampai di masyarakat berkait dengan program pemerintah,” ungkap Danang Wahyu Broto, Ketua Pansus Raperda Ketahanan Keluarga.

Dia menerangkan, perda tersebut berhasil disahkan melalui proses perdebatan yang panjang dan alot, sampai terlambat disahkan dari jadwal semula. Ini karena pansus bersikap hati-hati menyangkut beberapa persoalan yang bersentuhan dengan ranah privasi keluarga.

“Karena kita ingin perda ini bisa aplikatif dan kerja sama dengan instansi vertikal bisa harmonis,” ujarnya dalam konferensi pers usai rapat paripurna.

Didampingi Kepala Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) DIY, Lutfi Hamid, lebih jauh Danang menyampaikan perda yang terdiri dari 10 bab dan 48 pasal itu bisa diberlakukan setelah terbit Peraturan Gubernur (Pergub).

“Kami berharap Perda bisa menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang selama ini terjadi di masyarakat DIY,” ungkap anggota DPRD DIY dari Fraksi Gerindra itu.

Selanjutnya, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bisa menggunakannya sebagai payung hukum untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan, gini ratio (ketimpangan), klithih melalui keluarga sebagai unit terkecil masyarakat.

Lutfi Hamid menyampaikan apresiasi untuk DPRD DIY yang berinisiatif menyusun perda tersebut. Dengan begitu, eksekutif bisa lebih leluasa dan mantap karena sudah ada payung hukumnya.

Yang pasti, Perda Ketahanan Keluarga mampu membentengi masyarakat DIY dari berbagai perubahan yang berlangsung sangat cepat termasuk mengeliminasi dampak pembangunan bandara baru Kulonprogo.

Artinya, akses masuk DIY lebih terbuka. Wisatawan membanjir dan terjadilah industrialisasi di segala lini beserta ekses-eksesnya. (sol)