Warga merampungkan rumah pengganti longsor Luk Ulo, Kebumen, Senin (4/9/2017). (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ali Jafar (52), salah seorang korban longsor tebing Sungai Luk Ulo setahun lalu kebingungan merampungkan pembangunan rumah pengganti. Rumah lama warga Desa Kutosari, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen yang berada di tepi sungai terbesar di Kebumen itu terancam ambruk.

Ali Jafar kepada Koran Bernas, Senin (4/9/2017) mengaku sudah menerima bantuan uang tunai dari Pemkab Kebumen sebanyak Rp 10 juta. Selain itu bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kebumen juga sebesar Rp 10 juta.

Padahal uang kontrak dua keluarga lain yang menjadi korban tebing longsor di lokasi sebesar Rp 1,5 juta sudah habis. Keluarganya terpaksa bertahan di rumah lamanya meski terancam ambruk karena berada di tebing sungai.

Baca Juga :  Warga Perlu Biasakan Pilah Sampah

Jika air sungai pasang pada musim penghujan, kekhawatiran longsor susulan makin menakutkan. Keluarganya mengaku tidak mampu lagi untuk merampungkan rumah pengganti milik Desa Kutosari.

“Saya pernah minta bantuan ke bazda kebumen tapi ditolak karena status tanah bukan milik saya, 2 keluarga lain, dapat bantuan masing–masing Rp 10 juta,“ kata Ali Jafar.

Sementara Kepala Desa Kutosari, Mashud menjelaskan, pihaknya sudah meminta keluarga Ali Jafar membangun rumah seadanya. Namun Ali Jafar membangun rumah dengan dak beton sehingga bisa menjadi rumah 2 lantai.

“Ya tidak cukup, dengan Rp 20 juta, untuk membangun rumah 2 lantai,” kata Mashud. (yve)