Tukang Sayur pun Bisa jadi Juragan

602
Sudarso berjualan sayuran di Perumahan Pesona Kayangan, Jabar. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menjadi tukang sayur mungkin banyak dilihat sebelah mata. Banyak orang mungkin beranggapan, profesi itu tidak menjanjikan secara ekonomi.

Tapi nanti dulu. Hal itu tidak berlaku pada Sudarso. Meski menjadi tukang sayur, Sudarso mampu meraih omzet sekitar Rp 3 sampai Rp 4 juta per hari dari dagangannya.

Bahkan di hari Sabtu, dia makin laris manis karena banyak pembeli belanja dobel karena hari Minggu dia libur. Sehingga omzetnya semakin tinggi setiap akhir pekan.

Bila dihitung marginnya secara akumulatif setiap bulannya, penghasilan Sudarso jauh lebih tinggi dibanding PNS, seorang kepala dinas sekalipun.

Sudarso berjualan sayuran di Perumahan Pesona Kayangan, Djuanda di Jalan Djuanda, Depok Jawa Barat. Beruntung dia mendapat izin menjadi penjual sayur tunggal di perumahan yang dihuni ratusan keluarga tersebut sehingga memiliki penghasilan yang mencukupi keluarganya.

“Alhamdulillah, awalnya izin saya peroleh dari developer. Lalu kemudian dalam perjalannya oleh ibu Endang, ketua PKK, saya mendapat tempat di sini,” kata Sudarso saat berbincang dengan Koran Bernas, Sabtu (16/09/2017).

Menurutnya, ada syarat dari pak RW yang harus dia penuhi. Yakni barang harus bagus, harga tidak mahal dan harus selalu menjaga kebersihan. Pesan itu terus dipegang teguh oleh Darso. Guna memberi pelayanan prima, pria asal Desa Ndoro, Pekalongan ini dibantu tiga keponakan dan seorang adik ipar.

Baca Juga :  Sejumlah Luweng Jadi Tempat Pembuangan Sampah

Tapi omzet besar itu harus ditebus dengan kerja super keras. Pukul 01.00 dinihari ketika orang lain masih dibuai mimpi, dia bersama krunya harus sudah belanja di Pasar Kemirimuka, Depok. Hal itu dilakukannya agar pukul 04.00 sudah tiba di Pesona.

Tak hanya itu, saat musim hujan, Pasar Kemirimuka selalu banjir sehingga dia harus susah payah mengumplkan barang dagangan. Apapun kondisinya, Darso harus tetap ke pasar. Tanggungjawabnya tidak bisa dikalahkan oleh alasan apapun.

Dulu Darso membawa dagangannya dengan Tossa. Tapi motor roda tiga itu sering mogok sehingga kemudian diparkir di lokasi untuk mendisplay dagangan. Sejak tiga bulan yang lalu, pria berusia 33 tahun ini sudah berhasil membeli mobil pick up meski mencicil dengan jangka waktu panjang.

Segalanya Tersedia

Darso menyediakan segala macam keperluan rumahtangga. Dari bayam, wortel, genjer, kacang panjang, terong, jagung hingga segala macam bumbu. Untuk memudahkan, semua sudah dikemas dalam plastik, sehingga tinggal menyerahkan pada pembeli.

Tiap hari rata-rata dia menyediakan 10 sampai 12 ekor ayam potong selain kalau ada pesanan. Ayam kampung juga ada, utamanya pada hari Sabtu. Aneka ikan air tawar dan ikan laut, udang, cumi dan sejenisnya disiapkan dalam jumlah banyak.

Baca Juga :  Jangan Tutup Pintu Saat di Kamar Mandi

Dengan cekatan mereka membersihkan ikan yang dipilih sehingga siap masak. Semua serba gerak cepat, apalagi kalau masih pagi karena pembeli selalu antri. Hampir segala macam buah juga disediakan, termasuk lauk siap saji. Sementara sebuah tas hitam yang digantungkan di dahan pohon, berfungsi menjadi “brankas”.

Selain di Tossa, segala macam dagangan ditata di meja panjang. Juga di lantai konblok beralas plastik agar pembeli gampang memilih. Bukan hanya pembelanja yang datang, pesanan juga banyak diterima lewat telepon. Anak buah pun dengan cepat menyiapkan, satu tangan memegang telepon seluler, tangan lain memasukkan barang-barang pesanan dalam tas plastik, sekalian dengan nota belanjanya.

“Anak-anak tinggal mengantar,” katanya.

Soal kualItas barang, tetap terjaga. Sehingga kalau ada pelanggan komplain, dia segera menukarnya, termasuk barang yang agak rusak lantaran proses pengangkutan dan penataan.

“Karena tempat yang disediakan di dekat lapangan tenis terbuka, kalau hujan memang jadi masalah. Ya kami amankan dengan terpal,” jelasnya.

Tak selamanya dagangan habis. Kalau masih ada, Daarso menyetorkan ke warung tegal langganannya meski dengan harga lebih murah. Yang penting tidak rugi dan uang terus berputar sehingga dinihari nanti dia bisa kulakan lagi sesuai kebutuhan. (yve)