91 Persen Siswa di Kulonprogo Mengaku Merokok

127
Program Director MTCC UMY, dr Supriyatiningsih menyampaikan paparannya dalam Diskusi Penyakit Kronik dan Gangguan Munologi di Silol Kopi and Eatery, Kamis (12/04/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kabar tak mengenakkan bagi dunia pendidikan di DIY. Berdasarkan survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Kulonprogo, selama kurun waktu 2016-2017, sekitar 91 persen siswa dari total 1.408 siswa SMP kelas VII di 36 SMP kabupaten itu mengaku merokok.

Setelah dilakukan tes urin, siswa yang dinyatakan positif merokok lebih dari 34 persen. Sedangkan 66 persen siswa lainnya dinyatakan negatif atau tidak merokok.

“Siswa paling banyak merokok dengan rokok elektrik,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kulonpropgo, dr Bambang Haryatno MKes dalam Diskusi Penyakit Kronik dan Gangguan Munologi di Silol Kopi and Eatery, Kamis (12/04/2018).

Padahal penggunaan rokok elektrik, menurut Bambang lebih berbahaya dari jenis rokok lain. Sebab ada kandungan ekstrak tembakau lewat asap yang langsung masuk ke paru-paru.

Baca Juga :  Rentenir Itu Manis di Depan Pahit di Belakang

Karenanya berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Pemkab Kulonprogo salah satunya melarang iklan rokok di berbagai titik selain kampanye antitembakau di lingkungan sekolah.

“Waktu ada iklan rokok, pendapatan daerah yang masuk sekitar delapan ratusan juta per tahun. Setelah dilarang pada 2015 lalu nyatanya pendapatkan iklan kami tidak banyak berubah,” tandasnya.

Sementara Program Director Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dr Supriyatiningsih mengungkapkan upaya mengurangi prevalensi atau habit anak-anak untuk merokok perlu dilakukan melalui berbagai cara. Hal itu penting karena anak-anak hingga usia 20 tahun belum memiliki kemampuan berpikir tentang yang baik atau buruk bagi kesehatan mereka.

“MTCC mencoba ikut berperan aktif dalam program pengendalian tembakau dan KTR (Kawasan Tanpa Rokom-red. Selai itu melakukan advokasi kebijakan publik dalam pengendalian dampak tembakau dan sosialiasi pengintegrasian dampak tembakau pada masyarakat luas, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta,” imbuhnya.(yve)

Baca Juga :  Prabowo Ziarah ke Makam Raja