Ada Gunungan Ikan dan Bregada Berkuda di Tambakbayan

456
Gunungan unik terdiri dari ikan nila dan bawal pada merti dusun RW 04 Glendongan, Tambakbayan Caturtunggal Sleman.(ARIE GIYARTO/KORANBERNAS.ID)

KORAN BERNAS.ID–Gunungan tak hanya milik keraton. Sejak beberapa tahun terakhir ini, berbagai desa bahkan dusun, juga membuat, mengarak dan memperebutkannya sebagaimana terjadi pada saat grebeg yang digelar keraton di halaman Masjid Gede Yogyakarta.

Awalnya gunungan terbuat dari aneka hasil bumi, aneka makanan kering dari aneka umbi-umbian. Setelah ada gunungan bakpia yang dibuat oleh komunitas pengusaha bakpia, ada gunungan salak, kini muncul ide baru, yakni gunungan ikan.

Muncul pekan lalu ketika masyarakat RW 04 Glendongan, Tambakbayan, Desa Caturtunggal Sleman punya gawe merti dusun.

“Ada satu gunungan ikan, menggunakan satu kuintal ikan bawal dan nila. Gunungan satunya terbuat dari sayuran dan buah-buahan,” kata Slamet Suparman, Ketua RW 04 Glendongan menjawab pertanyaan KoranBernas.id, Selasa (29/08/2017) sore.

Baca Juga :  Penyandang Disabilitas Berjuang Peroleh Haknya

Seluruhnya ada puluhan kolam ikan milik warga dikuras, disumbangkan untuk merti dusun sebagai bentuk rasa syukur telah dianugerahi kehidupan yang lebih baik dalam limpahan keselamatan. Seluruhnya ada tujuh kuintal ikan, selebihnya untuk jamuan makan warga dan tamu undangan. Ikan sebanyak itu dibagi pada ibu-ibu  6 RT dan 1 RW untuk mengolahnya.

Setelah diolah, ikan untuk gunungan itu dibungkus plastik kemudian digantungkan keliling kerangka gunungan yang cukup besar. Selain tidak terkontaminasi debu maupun kotoran lain, bungkus plastik juga untuk menjaga saat diperebutkan tetap aman. Menggantungkannyapun juga lebih mudah.

Gunungan itu kemudian dikirabkan keliling wilayah, diiringi bergada pasukan berkuda, warga setempat serta aneka tarian. Karena eventnya sekaligus merayakan ulang tahun Kemerdekaan RI.

Baca Juga :  Panasonic–UGM Dorong Peningkatan Kompetensi Teknisi

Seluruh warga menikmati kegembiraan dengan makan bersama nasi tumpeng bersama lauk kelengkapannya dalam suasana kebersamaan, guyub rukun dalam ke-Bhineka tunggal ika-an.

Malam harinya digelar pertunjukan wayang kulit dengan dalang Alfian Anggaramukti S.Pd dari Gunungkidul. Mengambil lakon Carangan Wahyu Seta Kumala. Berisi harapan agar kehidupan di tahun-tahun berikutnya bisa lebih sejahtera dalam lindungan keselamatan Allah.

RW yang berpenduduk 200 KK ini mengagendakan merti dusun setahun sekali. Selain sarat akan symbol-simbol rasa syukur dan permohonan keselamatan pada Allah, menurut Slamet Suparman, juga nerupakah salah satu bentuk upaya nguri-uri tradisi Jawa. Agar tidak tertelan oleh kemajuan zaman. (Arie Giyarto/SM)