Ada LPG 3 Kilogram untuk Kepentingan Pengairan

263
LPG 3 Kilogram untuk warga miskin. (dokumentasi)

KORANBERNAS.ID—Kelangkaan LPG 3 kilogram atau LPG Melon yang terjadi, diduga karena ada penyalahgunaan serta panic buying di masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Koordinator Keagenan LPG 3 Kg Kulonprogo Hiswana Migas DIY, Taufiqurrakhman, saat bicara dengan wartawan di Kulonprogo Minggu (17/09/2017).

Didampingi Kepala Dinas Perdagangan Kulonprogo Niken Probolaras, Taufiq memberikan contoh penyalahgunaan yang terjadi. Misalnya, gas melon digunakan sebagai bahan bakar alat penyedot air keperluan mengairi sawah.

“Kami melihat di sawah petani menggunakan gas melon untuk menghidupkan pompa air mereka. Kami akhirnya memberikan mereka edukasi dan imbauan, bahwa yang mereka lakukan itu sebetulnya tidak benar,”ujarnya.

Contoh lain, ada juga peternak ayam menggunakan gas melon untuk bahan bakar pemanas kandang peternakannya.

Hiswana tidak mampu melarang apa yang dilakukan warga tadi, karena Hiswana akan mendapat tanggapan balik dari warga, terkait ketersediaan gas yang bisa digunakan untuk keperluan pertanian dan peternakan. Karena melarang warga menggunakan gas melon untuk keperluan di luar peruntukkan bukan ranah wewenang Hiswana Migas.

Persoalan lainnya adalah jual beli gas di wilayah perbatasan. Contohnya, penjual gas di Kalibawang bukan hanya menjual kepada warga Kalibawang atau Kulonprogo. Melainkan juga menjual kepada pembeli yang berasal dari Magelang, daerah yang berbatasan langsung dengan Kalibawang. Hal yang sama terjadi untuk pengecer gas LPG di Temon. Mereka juga melayani pembeli dari Purworejo.

Ia tidak menampik bahwa tidak semua penjual mengetahui identitas asal daerah pembeli, kendati demikian kejadian itu patut disayangkan, pasalnya di tiap Kabupaten sudah mendapatkan kuota gas melonnya masing-masing sesuai kebutuhan.

“Di wilayah-wilayah itu tadi, stok kami sampai habis. Kami lakukan droping, habis lagi. Setiap dilakukan pengiriman, masyarakat langsung antre. Karena tadi, kuota yang seharusnya untuk warga Kulonprogo justru dibeli oleh yang bukan orang Kulonprogo,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan  Kulonprogo, Niken Probo Laras menyatakan pihaknya sudah sering memberikan imbauan agar warga menggunakan gas melon sesuai peruntukkan.

Disdag tidak bisa mengambil langkah lebih jauh, karena ia menyadari bahwa di Peraturan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral tidak mengatur secara tegas, bahwa gas melon merupakan gas untuk keluarga tidak mampu. Hanya saja, memang menyebutkan bahwa gas melon tidak boleh digunakan untuk transportasi dan industri besar.

“Tapi selalu kami sampaikan kepada masyarakat, bahwa gas melon itu untuk warga miskin dan pengusaha kecil,” paparnya.

Taufiqurohman menyatakan, Hiswana sudah mulai melakukan antisipasi stok setelah libur hari raya. Di luar alokasi gas melon reguler Kulonprogo yang sebanyak 264.560 tabung atau 30,53 Metrik ton perhari.

Ia menerangkan, langkah itu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan normal warga Kulonprogo, khususnya selama September 2017.

Sebelumnya memang Hiswana baru mengantisipasi stok hari libur, dan tidak menyediakan tambahan stok gas melon pada masa setelah libur. Yaitu hanya alokasi fakultatif awal bulan persiapan Idul Adha 16.320 tabung atau 1,88 Metrik ton perhari.

Padahal, September ini kebutuhan gas melon justru semakin tinggi, karena mayoritas warga mulai melakukan pengolahan daging yang mereka dapat pada hari raya Idul Adha. Ditambah lagi, ada banyak kegiatan besar yang dilaksanakan warga, setelah Idul Adha, salah satunya pernikahan.

Namun sekarang ini, Hiswana telah melakukan penambahan stok fakultatif, baik untuk antisipasi kebutuhan setelah Idul Adha ataupun kebutuhan saat  libur Tahun Baru Islam.

Total jumlah alokasi disebutkan mencapai 15.680 tabung atau 1,81 Metrik ton perhari. Sehingga, bila ditotal secara keseluruhan, Kulonprogo memiliki alokasi ketersediaan hingga 296.560 tabung atau 34,22 Metrik ton perhari. “Jadi, kalau dengan alokasi sebesar itu masih terjadi kekurangan di pangkalan-pangkalan LPG, sehingga masyarakat sulit mendapatkannya, disinyalir ada penyalahgunaan barang subsidi tidak sesuai dengan peruntukkannya,” ucapnya.

Namun Taufiq tidak menutup kemungkinan adanya kekurangan pasokan terjadi di tingkat pangkalan. Karena bisa jadi, ada masa saat alokasi fakultatif belum turun dari Pertamina, yang menyebabkan Hiswana belum bisa memasok tabung dengan jumlah sesuai yang tertera dalam kontrak.

“Seperti misalnya pada awal September, saat itu belum turun. Kami baru bisa memasok alokasi regulernya. Jadi ada beberapa pangkalan yang stoknya berkurang  10-15 tabung,” sebutnya.

Agen Gas Pijar Biru Kulonprogo, Nanang Suswandono mengimbau, warga tidak perlu panik, dalam menyikapi isu kelangkaan gas melon. Isyu tersebut, katanya, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kalau panik, malah akan mepengaruhi permintaan sehingga berdampak ke ketersediaaan LPG Melon di Kulonprogo. Karena warga yang seharusnya hanya butuh satu, jadi beli dua,” ujarnya.(Surya Mega)