Ada Pelukis Gondrong Berbagi Ilmu di Sekolah Budi Utama

423
Pelukis Operasi Rachmad mengajak siswa Sekolah Budi Utama Yogyakarta praktik melukis. Ini merupakan bagian dari program pengenalan profesi di sekolah  tersebut. (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Jangan melihat seseorang dari penampilan luarnya. Jangan pula meremehkannya. Inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh kepala sekolah dan guru Sekolah Budi Utama di Jalan Wijaya Kusuma, belakang TVRI Jogja.

Jumat (23/02/2018) siang, para siswa mengikuti kegiatan pengenalan profesi. Kali ini pihak sekolah mendatangkan pelukis kondang. Kebetulan rambutnya gondrong. Dia adalah Operasi Rachmad. Tujuannya supaya para siswa memiliki bayangan ketika akan masuk universitas nantinya.

“Jangan hanya terpatok pada profesi-profesi konvensional seperti dokter, guru, pengacara, jaksa, insinyur. Sudah ada siswa kami berani memilih desain seni,” ungkap Frengky SSi MA, Kepala SMA Budi Utama Yogyakarta kepada wartawan di sela-sela kegiatan.

Menurut dia, program pengembangan diri yang dimulai tahun 2015 itu memang wajib diikuti siswa kelas X dan XI. Figur yang didatangkan ke sekolah dari beragam latar belakang profesi seperti public relation, artis, pengusaha bahkan karyawan. “Kali ini kami mengundang seorang pelukis,” kata dia.

Di ruang auditorium, Operasi Rachmad langsung memperkenalkan diri sebagai seorang pelukis kemudian berbagi ilmu. Dia menjelaskan, proses penciptaan karya seni memadukan teori bermain dan analisa serta disiplin kerja.

“Sekarang ini dunia main-main dianggap bukan pelajaran padahal itu sangat penting. Sekarang anak-anak kehilangan dunia bermain,” ungkapnya kepada wartawan sebelum memulai acara.

Baca Juga :  Tak Perlu Rusuh, Inilah Cara Buruh Bantul Rayakan May Day
Para siswa antusias saat memperoleh kesempatan melukis di atas kanvas. (dwi suyono/koranbernas.id)

Sebenarnya, lanjut dia, bakat cukup satu persen saja. Selebihnya 99 persennya berupa kemauan dan kesempatan. Dengan kata lain, semua orang pada dasarnya memiliki bakat seni.

Operasi Rachmad menegaskan, untuk menjadi seniman seseorang harus berani mengambil keputusan dan terus belajar. “Belajar itu seperti bekerja. Harus ikhlas,” kata dia.

Memang, profesi seniman itu citranya buruk karena banyak yang tampil gembel. Tapi perlu dibedakan istilah nyeniman dan seniman. “Seniman itu tidak dipercaya bank dan mertua. Jika sudah sukses justru dikejar-kejar oleh bank dan dipuji mertua,” ujarnya disambut tawa.

Sebenarnya, seniman bekerja 24 jam seperti halnya peneliti. Yang terjadi, ketika seniman sedang bengong dikira nganggur padahal berpikir keras untuk penciptaan karya. “Seniman itu bukan profesi yang main-main,” tegas pelukis asal Jawa Timur yang kini menetap di Yogyakarta.

Dia berpesan kepada para siswa dan siswi agar menerapkan disiplin waktu, bekerja keras, kreatif, jujur dan tanggung jawab. “Kalau hilang satu, itu mahal harganya,” tambahnya.

Tak lupa, pelukis yang pernah berpameran di Tokyo Jepang dan Amerika Serikat (AS)  ini menyemangati para siswa agar terus maju. Sebab, semua profesi butuh dedikasi.

Baca Juga :  Inovasi Sunmor Sembada Sleman Siap Ditiru

Operasi Rachmad kemudian berkisah tentang pengalamannya tatkala diremehkan oleh pelukis dari luar negeri. Sebut saja Amerika Serikat, Australia dan Prancis. Mereka bertanya butuh waktu berapa lama melukis wajah.

Kepala Sekolah Budi Utama, Frengky SSi MA. (dwi suyono/koranbernas.id)

Dia jawab singkat. Cukup 15 menit saja, seraya menikmati wedangan terlebih dulu sebelum melukis. Begitu mengetahui karyanya, mereka yang semula meremehkan berbalik menaruh hormat dengan lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta angkatan 1988 itu. Dari cerita itu, pesan yang ingin dia tekankan adalah jangan pernah merasa minder.

Dalam kesempatan itu, Operasi Rachmad meminta siswa dan siswi melukis di atas kanvas. Dia lemparkan bola kuning. Siswa yang terdekat dari titik jatuhnya bola harus maju. Saking antusiasnya, ada siswa memilih maju dan melukis tanpa harus menunggu bola kuning jatuh di dekatnya.

Memang, kata Operasi Rachmad, penciptaan karya seni mengandung unsur main-main. Namun demikian dia memastikan seorang pelukis harus menguasai teori analisa. Unsur main-main itulah yang ingin dia bangkitkan kembali dari dalam diri para siswa Sekolah Budi Utama. (sol)