Ada Pengantin Menikah Diatas Crane 20 Meter

254
Ketua Prodi Fotografi, FSMR ISI Yogyakarta, Irwandi (kiri) dan Ryan Budi Nuryanto Ketua Pelaksana Pre-Post Wedding menyampaikan paparannya terkait acara tersebut di Balaikota Yogyakarta, Kamis (6/9/2018). (w asmani/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Ingin melihat pengantin menikah di atas di crane Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan ketinggian 20 meter dari tanah ? Lihat saja acara   “Pre – Post Wedding Bareng Jogja Istemewa”,  yang akan diselenggarakan di Taman Pintar Yogyakarta,  Minggu (16/9/2018).  Acara ini digelar Forum Ta’aruf Indonesia (Fortais) Sewon, Bantul, Yogyakarta yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, KPU DIY, Paguyuban Rias Kinasih Yogyakarta, didukung Taman Pintar Yogyakarta serta Program Studi (prodi) S1 Fotografi FSMR  ISI Yogyakarta dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Yogyakarta ke 262 dan Pesta Demokrasi  Pemilu 2019,.

Ketua Pelaksana Pre-Post Wedding, Ryan Budi Nuryanto Ryan di Balaikota Yogyakarta, Kamis (6/9/2018) mengatakan saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa menikah dan mendapatkan status pernikahan yang jelas. Persoalan ini terjadi salah satunya dikarenakan tingkat kemiskinan masyarakat yang masih tinggi dan tidak memiliki biaya menikah. Selain itu berkembangnya gaya hidup bebas  tanpa ikatan pernikahan.

Padahal pernikahan merupakan misaqan gholidan yaitu suatu janji suci  dan sakral kepada Allah SWT dan sah yang dicatatkan di KUA / Kantor Catatan Sipil sekaligus sebagai penciptaan generas i baru yang cinta kebhinekaan Indonesia.

“Berkaitan dengan hal tersebut, maka kami menggelar Pre – Post Wedding Bareng Jogja Istemewa. Kegiatan ini gratis untuk umum serta kegiatan ini untuk pertama di Indonesia dan dunia, karena memadukan Pre dan Post Wedding,paparnya.

Baca Juga :  Mengurus Ijin Bisa Online

Ryan menjelaskan, proses pernikahan dimulai dengan pre wedding melalui sesi pemotretan di wahana Taman Pintar dan seputaran Titik Nol Km. Sedangkan prosesi nikah dilaksanakn secara unik di atas crane.

Selain pengantin baru, panitia juga menyediakan layanan bagi pasangan yang merayakan pesta perak atau emas dalam perkawinan dalam program post  wedding.

Diperkirakan peserta pernikahan massal tersebut mencapai 20 hingga 26 pasangan. Panitia akan menanggung biaya pernikahan tersebut.

“Saat ini sudah ada 16 pasangan, masih kurang 10 dan semuanya gratis, bahkan peserta mendapat fasilitas cincin kawin, pre wedding unik, busana manten nusantara atau modern dan dokumentasi  Pre-Post Wedding,” jelasnya.

Dengan tema “Mahadaya Cinta Untuk Indonesia”, Ryan berharap dapat memupuk spirit kebhinekaan, karena  masing-masing memiliki latar belakang, budaya dan umur yang berbeda. Apalagi tujuan dari kegiatan itu untuk mewujudkan pasangan sakinah sejahtera membawa keberkahan untuk Indonesia sesuai dengan tata kehidupan dan penghidupan masyarakat ber-Pancasila dilandasi cinta Ilahi dan NKRI.

Baca Juga :  Menristekdikti Kunjungi BPTBA

“Kegiatan dilakukan di Taman Pintar dan seputaran titik nol Km, ini sebagai wujud pelestarian tradisi  yang hanya dimiliki Indonesia dan dapat meringankan mereka yang tidak mampu untuk memberikan kenangan terindah dan sekaligus sebagai motor pengerak mensukseskan Pemilu dari keluarga,” tambahnya.

Sementara Irwandi, Ketua Prodi Fotografi, FSMR  ISI Yogyakarta mengatakan pihaknya sudah menyiapkan sebanyak 26 relawan mahasiswa untuk sesi pemotretan  momen  Pre-Post Wedding.

“Kegiatan ini kami ambil sebagai upaya mengamalkan Tri Darma Peguruan Tinggi, mengamalkan kemampuan untuk masyarakat,” ungkapnya.

Irwandi menambahkan, kegiatan tersebut sangat menarik, sangat kreatif. Sebab selama ini dokumentasi hanya dilakukan untuk pre wedding dan wedding saja, sedangkan untuk kegiatan post wedding hampir tidak didokumentasikan baik di luar negeri atau di dalam negeri.

“Relawan pemotretan  dari  mahasiswa sudah siap dengan berbagai  tantangannya. Dalam kurikulum kami juga ada untuk pemotretan untuk pre dan post wedding,”  ungkap fotografer ini.

Sofi, perwakilan dari Paguyuban Rias Kinasih Jogja menjelaskan konsep tatarias Pre-Post Wedding adalah pluralisme.

“Ada adat jawa dan internasional, tergantung pilihan peserta. Para perias tinggal mengaturnya, misalnya ada peserta yang badan besar, ini perlu disiasati untuk ukuran bajunya,” papar Sofi.(yve)