Ada Ribuan Sungai Bisa Dikemas Jadi Obyek Wisata

308
Ketua Stipram, Suhendroyono, berbicara di forum Conference Ecotourism, Kamis (22/02/2018), di auditorium kampus setempat.

KORANBERNAS.ID – Sebagai  negara kepulauan dan perairan, Indonesia memiliki 494 sungai besar. Itu belum termasuk anak sungai. Jika ikut dihitung jumlahnya mencapai ribuan. Inilah potensi yang sangat besar, dikemas sedemikian rupa jadi obyek wisata.

“Persoalannya, bagaimana memanfaatkan dan mengemasnya menjadi obyek wisata. Di DIY sendiri ada hampir 20 sungai,” ungkap Dr Ir Bambang Supriyadi CES DEA, Koordinator Kopertis (Koordinator Perguruan Tinggi Swasta) Wilayah V DIY, saat menjadi keynote speaker National Conference Ecotourism di Indonesia Pemanfaatan Aliran Sungai Sebagai Obyek Wisata Terbarukan, di Auditorium Kampus Stipram, Kamis (22/02/2018).

Bambang Supriyadi yang berlatar belakang ilmu teknis itu selain suka berwisata juga mengerti tentang sungai. Ada banyak contoh di luar negeri maupun dalam negeri ternyata sungai mampu menjadi obyek wisata menarik dan punya karakter tersendiri.

Contohnya Sungai Thames di London Inggris atau Seine di Paris P:rancis yang begitu terkenal. Bandingkan dengan potensi yang dimiliki Indonesia.

Sebut saja Sungai Kapuas yang terpanjang di Indonesia (1.143 kilometer) kemudian Sungai Mahakam 920 km, Barito 900 km dan Bengawan Solo 548 km. Sekali lagi, semua itu potensinya tidak kalah jika dikemas dengan baik.

Contoh lagi, negara tetangga Singapura membuat obyek wisata baru berupa sungai buatan bahkan dilengkapi, dalam tanda kutip, tebing sungai. “Tetapi di Singapura itu tidak asli. Di Indonesia sungai yang asli jauh lebih banyak. Kesimpulan saya, Indonesia punya sesuatu yang lebih baik,” ungkapnya.

Baca Juga :  Gigitan Tikus Merusak Tanaman Padi

Mestinya, pemerintah memberikan perhatian lebih sementara para pelaku wisata serta masyarakat melakukan inovasi-inovasi. Keunikan sungai sebagai sarana transportasi, seperti di sungai Mahakam, jangan lantas ditinggalkan setelah jalan darat berkembang.

Di DIY sendiri ada banyak potensi sungai apabila dikemas secara baik mampu menjadi obyek wisata menarik. Yang sudah ada di kawasan Jembatan Gondolayu, meski belum setenar Ah Pong di Bogor atau rafting di Magelang.

Mahasiswa Stipram antusias mengikuti jalannya seminar di kampus setempat.

Bambang Supriyadi melihat sebenarnya DIY punya satu yang menarik, yaitu di kawasan masuknya air dari Kali Progo ke Selokan Mataram. Hanya saja untuk mengembangkannya menjadi obyek wisata harus disambung dengan destinasi lain di dekatnya.

Contoh model pengembangan Selokan Mataram untuk pariwisata misalnya kegiatan susur Selokan Mataram seperti halnya berperahu di kanal Giethoorn Belanda.

Apalagi saluran Mataram di Kulonprogo masih dekat dengan alam, berbeda dengan kondisnya di  kawasan perkotaan, kiri kanan saluran dipenuhi rumah.

Hanya saja, lanjut dia, pengembangan wisata sungai memiliki sejumlah kendala yakni fluktuasi permukaan air sungai saat banjir dan musim kemarau tidak seimbang.

Baca Juga :  Eksotisme Barcelona Ala Indonesian Sweetheart

Kendala lain berupa kurangnya investor, kurangnya usaha pemberdayaan lingkungan sungai sebagai obyek wisata serta kurangnya inovasi wisata air.

Sependapat, pakar pariwisata UGM, Prof Wiendu Nuryanti PhD mengatakan kesadaran warga terhadap pentingnya sungai untuk kepariwisataan masih sangat kurang. Inilah yang perlu dibenahi.

“Kita tidak perlu membangun sarana maupun prasarana yang neka-neka. Asalkan air sungai itu dijaga tetap bersih, mengalir dan kedalamannya mencukupi, otomatis wisatawan akan datang sendiri. Lebih bagus jika ditambah pemandangan yang asri. Warga setempat harus menjadikan sungai sebagai halaman depan,” ujarnya.

Jika masyarakat sadar dan mampu memahami karakter sungai, otomatis akan terlihat indah dengan sendirinya tanpa harus menambah hal-hal baru yang dikhawatirkan justru merusak pemandangan asli sungai sehingga tidak natural lagi.

Prof Wiendu yang pernah menjadi wakil menteri pariwisata RI ini mengatakan, di sinilah pentingnya masyarakat menyadari sungai bukan tempat pembuangan sampah maupun limbah rumah tangga.

Ketua Stipram, Suhendroyono SH MM MPar CHE,  menambahkan undang-undang tentang sungai tidak memuat sanksi, kecuali larangan untuk tidak mengotori sungai.

“Kita semua sibuk dengan kemacetan jalan tapi tidak memikirkan transportasi air. Kami mengharapkan, forum seminar selama dua hari ini bisa menggugah kesadaran kita semua mengenai pentingnya air,” tandasnya. (sol)