Ada Sapi Pink Eye di Kulonprogo

433
Salah satu sapi kurban berharga mahal di penampungan milik Olan (Sri Widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Menjelang hari raya Idul Adha saat ini Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kulonprogo sibuk memeriksa kesehatan hewan kurban. Dari hasil pemeriksaan tersebut, diketahui ada satu ekor sapi yang menderita pink eye.

Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kulonprogo menerjunkan tiga tim untuk melakukan pemantauan hewan kurban menjelang Idul Adha. Tim menyasar 40 tempat penampungan hewan kurban yang tersebar di seluruh wilayah Kulonprogo.
Menurut Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Kulonprogo, drh Drajat Purbandi, pemantauan hewan kurban di Kulonprogo dibagi dalam tiga wilayah yakni wilayah utara, tengah, dan selatan. Tim yang diterjunkan juga dibagi dalam tiga tim, masing-masing memantau empat kecamatan di masing-masing wilayah utara, tengah, dan selatan. Ada sekitar 40 penampungan yang akan diperiksa.

“Setiap tim pemantau akan dibantu dokter hewan di Puskeswan setempat. Jadi ketika memantau minimal ada satu dokter hewan,” kata Drajat, Minggu (27/8/2017).

Sasaran pemantauan meliputi sapi, kambing, maupun domba yang ada di kabupaten Kulonprogo. Adapun jumlah sapi yang akan digunakan sebagai hewan kurban di Kulonprogo sekitar 1.300 ekor yang ada di tempat-tempat penampungan.

Drajad menambahkan, tujuan pemantauan lebih banyak ke arah pemeriksaan antemortem atau sebelum disembelih. Hal itu untuk memastikan bahwa hewan kurban secara syariat baik, yakni sudah dewasa atau belum, ada cacat atau tidak, dan dari syarat kesehatan hewan. “Artinya hewan calon kurban harus benar-benar sehat,” tegasnya.

Dari hasil pemantauan, ungkap Drajat, di wilayah tengah ditemukan satu ekor sapi yang mengalami sakit mata atau pink eye. Atas temuan itu, pihaknya menyarankan kepada pemilik agar mengobati terlebih dulu sampai sembuh dengan pengobatan salep mata antibiotik.

“Penyakit lain yang sering terjadi biasanya diare, karena mungkin stress transportasi, juga kadang-kadang setelah ditransportasikan nafsu makannya turun. Kadang-kadang ada juga yang pneumonia,” tuturnya.

Salah satu penampungan hewan kurban yang diperiksa tim DPP Kulonprogo adalah milik Olan Suparlan di Pedukuhan Blimbing, Kelurahan Sukarena, Kecamatan Sentolo. Olan  yang juga pedagang sapi ini  mendatangkan sapi-sapi kurban tidak hanya dari wilayah Kulonprogo, namun juga dari Gunungkidul, Jateng, Jatim, dan Madura. Olan mengaku, setiap hewan yang didatangkan dari luar daerah sudah dibekali dengan surat kesehatan.
Olan mengaku lebih mantap berjualan hewan kurban, berkat adanya pemeriksaan kesehatan oleh DPP Kulonprogo. “Harga sapi kurban dari Rp 17 juta sampai Rp 40 juta. Permintaan untuk sapi kurban sudah meningkat sejak satu setengah bulan lalu,” katanya.

Olan memiliki cara sendiri dalam berdagang hewan kurban. Ia tidak mau capek tawar menawar harga. Setiap sapi diberi nomor, kemudian ada lembar daftar harga dipasang.

“Kita ambil untung sedikit saja, yaitu dari harga kulakan ditambah ongkos kirim, pakan dan keringat kami. Biasanya pembeli percaya. Ini mudah, tidak capek,” ujarnya.
Ada 127 ekor sapi di penampungan milik Olan yang diperiksa kesehatannya oleh DPP Kulonprogo. “Kondisi kesehatan hewan semua sehat dan layak untuk kurban,” kata drh Drajat Purbandi.(eru)