Ada “Sawut” Kotak-kotak di Pateken Temanggung 

91
Sri Aminah (58) paling kanan, ketika menjajakan sawut produksinya yang dikemas berbentuk kotak-kotak. (Endri Yarsana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Singkong atau ketela pohon adalah makanan rakyat yang sering digunakan sebagai makanan pokok masyarakat desa untuk pengganti beras. Namun demikian singkong juga dapat diolah menjadi berbagai makanan khas Nusantara dan memiliki rasa dan sensasi yang berbeda dan enak.

Sawut (singkong yang diparut kasar) salah satunya. Makanan ini  kalau diperhatikan dengan seksama, kata “sawut” seperti “mawut” yang dalam bahasa Jawa artinya berantakan. Secara fisik, jajanan ini memang disajikan “asal”. Namun di Temanggung, sawut ada pula yang dicetak lalu diiris kotak kotak ukuran 8 cm x 9 cm.

Salah satu desa penghasil sawut di Kabupaten Temanggung yaitu Desa Pateken, Kecamatan Wonoboyo. Di desa tersebut, sawut adalah makanan khas yang sudah turun temurun dikenal. Sejak zaman penjajahan dan beralih dari generasi ke generasi, warisan resep pengolahan singkong menjadi cetakan sawut dan siap dimakan.

Desa penghasil sawut, melekat pada Pateken sejak lama. Mengingat desa tersebut sebagai penghasil sawut satu-satunya di Kabupaten Temanggung. Dengan banyaknya petani yang menanam singkong, membuat Desa Pateken tidak kekurangan bahan baku untuk selalu menghasilkan makanan khas yang terbuat dari bahan dasar singkong tersebut.

Baca Juga :  Sebarkan Kebaikan Lewat Secangkir Kopi

Selain sawut juga ada makanan tradisional yang berbahan singkong. Ada gamblong (singkong rebus ditumbuk halus) yang dibentuk persegi panjang dengan ketebalan tiga centimeter. Kemudian entho (singkong rebus ditumbuk) dan dibentuk seperti bola dan juga bulat pipih. Tapi sawut lah yang tetap menjadi andalan Desa Pateken.

Sebelum mengalami perubahan cara pemasaran, laki-laki dari Patekenlah yang memasarkan keluar desa, menggunakan anyaman bambu yang dibentuk sebagai bakul ukuran tanggung dan dipikul keliling dari desa ke desa. Seiring dengan perubahan zaman, untuk memasarkan sawut tidak lagi dengan cara demikian. Sawut dari Pateken banyak diambil pedagang yang berjualan di pasar atau melalui media online.

Meski menjadi penganan khas Pateken, harga sawut sangatlah terjangkau. Bahkan terbilang sangat murah. Tidak dengan hitungan kilogram, melainkan hitungan bijian, yaitu tiga biji hanya dihargai Rp 2.000, dengan bungkus daun pisang dan talinya dari bambu muda yang diiris tipis.

Sri Aminah (58 th) salah seorang pembuat sawut sejak umur 9 tahun menjelaskan cara membuat makanan tradisional tersebut.

“Pembuatan sawut sebenarnya mudah. Tapi memilih singkongnya harus jeli. Yaitu yang bagus juga mempur, supaya bisa menghasilkan sawut yang mudah di cetak dan gurih,” ujar Sri Aminah.

Baca Juga :  Polisi Amankan Empat Orang Penjual Miras

Aminah mengaku sejak kecil sudah membuat sawut untuk  membantu orangtua dan juga sering ikut memasarkan langsung ke desa desa hanya dengan berjalan kaki. Sekarang sawut buatannya sudah diambil para bakul untuk dijual di pasar.

“Saya mendapatkan bahan baku dari kebun sendiri dan juga dari tetangga. Sedangkan proses pembuatannya butuh waktu dua sampai tiga jam dari mengupas singkong, memasak sampai dibentuk kotak kotak,” jelasnya.

Seiring perkembangan zaman, makanan tradisional ini sempat mengalami kelesuan dan sepi peminat. Tapi dengan adanya media sosial secara perlahan mulai menggeliat lagi, bahkan cenderung dinikmati dan dicari.

Seperti diungkapkan Suyono warga Desa Petirejo yang lama merantau di Jakarta. Saat pulang ke desanya, ia selalu mencari sawut asli Pateken ini. Menikmati sawut mengingatkannya pada kenangan waktu kecil sering beli di pedagang yang menjajakan dengan cara dipikul.

Makanan tradisional dari bahan dasar singkong terutama sawut mulai mendapat tempat di pecinta kuliner saat ini serta menjadi jajanan tradisional pilihan utama yang ada di Kabupaten Temanggung maupun dari daerah luar Temanggung. (SM)