Ada Wajah-wajah Baru Pengurus PDHI

290
Ketua Dewan Pembina H RM Tirun  Marwito SH mengukuhkan pengurus baru PDHI tahun 2017-2022 Jumat  (17/11/2017) di Joglo PDHI. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Menjadi pengurus Yayasan Persaudaraan Djamaah Hadji Indonesia (PDHI)  tidak ringan karena harus ikhlas mengabdi kepada kepentingan umat.

PDHI hanya ada satu di Indonesia dan menginspirasi berdirinya organisasi-organisasi haji serupa di tanah air. Oleh karenanya seharusnya PDHI bisa menjadi contoh bagi yang lain.

Hal itu disampaikan H RM Tirun Marwito SH atau KRT Jatiningrat SH selaku Ketua Dewan Pembina PDHI sesaat usai mengukuhkan pengurus Yayasan PDHI periode 2017-2022, Jumat (17/11/2017) pagi  di Joglo PDHI Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Kepengurusan yang terpilih pada rapat daerah di PDHI Kotagede dua bulan lalu tersebut memunculkan wajah-wajah baru dari kalangan muda.

Harapannya ke depan PDHI lebih dinamis. Ketua umum terpilih Drs H Sunardi Syahuri. Dia didampingi Wakil Ketua Bidang Dakwah Dr H Khoiruddin Bashori MSi, Bidang Wakaf H Anas Ma`ruf SH.

Bidang Perencanaan dan Pembangunan Ir H Ismudiyanto MS. Bidang Pondok Pesantren dan Pendidikan  H Purwadi Pangestutyas SPd serta Wakil Ketua Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan, H AR Iskandar.

Baca Juga :  Sekolah Ini Jadi Teladan Sepanjang Masa

Sedangkan Sekretaris Umum Drs H Djuanda YHS. Bendahara Drs H Hasan Basri MM, masing-masing dibantu para wakilnya serta lima departemen di bawah koordinasi wakil-wakil ketua.

Pembangunan masjid

Sunardi Syahuri dalam laporannya mengatakan begitu banyaknya PDHI menerima wakaf. Selain banyak  yang sudah rampung, ada beberapa belum terselesaikan.

Terjadi kejutan, untuk pembangunan masjid di Nglancar ada bantuan Rp 50 juta melalui PDHI Gunungkidul. Dijadwalkan akhir bulan ini masjid tersebut bisa diresmikan. Selain ada stimulan dari PKPU, dana yang masuk lebih banyak dari PDHI maupun umat.

Di Kulonprogo, menurut H Sunardi, tanah wakaf 1.600 m2 dari Bani Munir  sudah berfungsi untuk pondok pesantren.

Ada puluhan santri dari 15 provinsi belajar di sana, dengan target tiga tahun hafal Alquran. Ke depan akan dibangun asrama untuk 300 santri. “Jika bandara Kulonprogo sudah berfungsi akan banyak lagi santri dari berbagai provinsi,” kata Sunardi berharap.

Baca Juga :  Asian Games Momentum Istimewa

Hanya saja ada yang masih mengganjal, ada warga yang belum mau melepas tanahnya untuk pelebaran jalan seluas 3 x 15 meter  menuju lokasi, hingga kini masih dalam taraf negosiasi. Sudah ditawar ganti rugi  Rp 2,25 juta per meter belum bersedia padahal harga umum hanya Rp 700.000.

“Mudah-mudahan kelak tanah itu hanya diwakafkan,” kata pemilik sejumlah toko swalayan Pamela itu.

Untuk pengajian keliling rutin  Minggu Pon pada 19 mendatang  akan berlangsung di  Semulya, yang merupakan desa kesenian.

Berbeda dengan pembangunan masjid lain, di Semulya akan dimeriahkan karawitan. Di tempat itu, seperti biasanya PDHI membantu penggalangan dana pembangunan masjid.

Dari PDHI terkumpul infak Rp 3 juta lebih yang akan disumbangkan untuk percepatan pembangunan masjid tersebut.  (sol)