Agar Kota Wisata Bebas dari Bau Pesing

263

KORANBERNAS.ID – Yogyakarta sebagai Kota Wisata terbesar kedua setelah Bali hampir setiap hari relatif tidak pernah sepi wisatawan. Namun ada kenyataan yang kurang mengenakkan ketika bau pesing mengusik wisatawan tatkala berada di jantung kota, Malioboro dan Titik Nol Kilometer.

Itulah yang terjadi pada 2011 dan 2014. Kondisi tersebut memaksa para pedagang kaki lima (PKL) Malioboro bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta melakukan penyemprotan mulai dari kawasan depan DPRD DIY sampai depan Istana Negara Gedung Agung.

Bau pesing yang berasal dari kencing kuda penarik andong maupun para pengunjung Malioboro buang air kecil di sembarang tempat itu dicoba dihilangkan dengan air bercampur kapur barus ditambah cairan kimia.

Hasilnya, bau pesing memang bisa lenyap namun hanya sekejap. Seminggu berselang kembali pesing. Ini terjadi akibat tidak adanya toilet di kawasan ini yang buka 24 jam, kala itu. Bisa ditebak, pengunjung pun terpaksa buang air kecil di sembarang tempat.

Kini, keluhan wisatawan yang terpaksa menutup hidup dengan kertas tisu atau sapu tangan sekadar untuk menepis aroma tidak sedap, sepertinya tidak lagi terjadi menyusul diresmikannya toilet berstandar bintang lima di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Selasa (09/01/2018).

Peresmian toilet bawah tanah yang dibangun sejak Maret 2017 dan menghabiskan dana Rp 5,8 miliar ini, dilakukan langsung Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan, Sultan pun meluncur ke ruang bawah tanah dengan eskalator yang disediakan khusus untuk difabel.

Sesuai sebutannya “toilet berkelas internasional” maka fasilitas publik yang berada di depan Gedung Bank Indonesia (BI) Perwakilan Yogyakarta itu pun bisa dibilang mewah untuk ukuran warga pada umumnya. Dengan 12 kamar mandi putri dan 6 putra, fasilitas tersebut juga dilengkapi satu ruangan khusus untuk laktasi dan difabel.

Pada pencanangan pemanfaatan pedestrian Malioboro tahap II dimulai dari Malioboro, Pasar Beringharjo sampai Titik Nol Kilometer, Sultan HB X berpesan semua pihak agar turut merawat sekaligus menjaga kebersihan dan kenyamanan fasilitas yang sudah disediakan Pemerintah DIY tersebut.

Artinya, keberadaan toilet tersebut diharapkan dapat menepis citra miring pariwisata Yogyakarta sekaligus membebaskan kawasan itu dari sergapan bau pesing.

Pada tahun pertama, toilet itu dikelola oleh Pemda DIY dan masih digratiskan, namun tidak menutup kemungkinan pada tahun berikutnya dikelola pihak ketiga dan penggunanya dikenai tarif berdasarkan SK Gubernur DIY.

Dalam kesempatan itu Sultan juga meminta Pemerintah Kota Yogyakarta membantu sosialisasi kepada para PKL dan para pemilik toko di sisi barat Malioboro agar mereka ikut menyukseskan program revitalisasi Malioboro tahap berikutnya.

PLt Kepala Dinas PU, Perumahan dan ESDM DIY, M Mansur ST MSi, menyampaikan pembangunan pedestrian tahap II yang dimulai 2016 tersebut menghabiskan dana Rp 17,3 miliar.

Tahun ini, giliran kawasan pedestrian sebelah barat tepatnya dimulai dari rel kereta api sampai Ngejaman, termasuk di dalamnya pembangunan eks gedung Bioskop Indra. Pekerjaan ini ditargetkan selesai pada 2019. (sol)