Air Baru Mengalir setelah Mata Bor Tembus Kedalaman 80 Meter

4954
Pengeboran sumur program Wakaf Sumur ACT DIY di Dusun Cikal Kecamatan Ngawen Gunungkidul. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Sumur bor sepertinya masih menjadi sesuatu yang mahal harganya, khususnya di sebagian wilayah Kabupaten Gunungkidul. Ini karena kondisi geografisnya berupa batuan kars. Pekerjaan membuat sumur selain memakan waktu lebih lama, juga butuh biaya relatif mahal.

Melihat permasalahan yang cukup menghawatirkan tersebut lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY mencoba mengurai permasalahan air bersih di Gunungkidul. Satu-satunya jalan untuk memotong permasalahan kekeringan tahunan di Gunungkidul yaitu melalui pembangunan Wakaf Sumur produktif.

Wakaf Sumur merupakan program yang diinisiasi oleh Global Wakaf-ACT, untuk membantu permasalahan kekeringan dan krisis air bersih. Pada dasarnya Wakaf Sumur produktif disiapkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan kekeringan yang sifatnya jangka panjang.

Wakaf Sumur kali ini dilaksanakan di Dusun Cikal Desa Watusigar Kecamatan Ngawen. Kondisi desa tersebut tahun ini memang cukup memprihatinkan.

“Warga kesulian air bersih sejak bulan Ramadan kemarin. Satu-satu satunya sumur bor yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Gunungkidul saat ini airnya kurang lancar,” kata Wasido, Kepala Dusun setempat.

Baca Juga :  Praktik Penambangan Liar Makin Marak

Untuk keperluan berwudhu pun warga masih kesulitan karena terbatasnya air, belum lagi sumur galian yang ada airnya sudah mulai mengering, serta PDAM yang ketersediaan airnya juga sudah macet sejak berminggu-minggu lalu.

Pembangunan Wakaf Sumur di Dusun Cikal berjalan sejak sepekan lalu. Air baru mengalir setelah mata bor menembus kedalaman bumi 80 meter. Kabar baik itu datang dari Widi selaku koordinator tim pengebor, Rabu (01/08/2018), setelah sepekan melakukan pengeboran. “Alhamdulillah, sumurnya sudah mengeluarkan air di kedalaman 80 meter,” ujar Widi.

Koordinator Pogram ACT DIY, Kharis Pradana, berharap Wakaf Sumur di Dusun Cikal manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat seluas-luasnya. “Semoga dusun dengan jumlah 172 keluarga yang mayoritas adalah petani ini dapat menikmati air bersih dari adanya Wakaf Sumur Global Wakaf-ACT,” kata dia.

Sampai saat ini melalui program Wakaf Sumur ACT berhasil membangun sumur di sembilan titik, satu berada di wilayah kota, satu di Kabupaten Bantul dan tujuh titik lainnya berada di Kabupaten Gunungkidul.

Baca Juga :  Gara-gara Pil Sapi, Sopir Travel Ini Dibekuk Petugas

Global Wakaf ACT DIY berkomitmen terus membangun dua sampai empat Wakaf Sumur setiap bulan di wilayah rawan kekeringan. “Semoga dengan adanya Wakaf Sumur permasalahan kekeringan dan ketersediaan air bersih di Yogyakarta dapat teratasi,” ujarnya.

Seperti diketahui, kemarau yang terjadi sejak bulan April membuat sebagian besar kecamatan di Gunungkidul mengalami kekeringan dan darurat air bersih. Setidaknya 31.607 keluarga di kabupaten ini mengalami kesulitan memperoleh air bersih sejak beberapa bulan terakhir.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, dari 18 kecamatan sebanyak 13 kecamatan dinyatakan darurat kekeringan dan krisis air bersih.
Di antaranya, Kecamatan Rongkop, Tepus, Semin, Tanjungsari, Saptosari, Ponjong, Nglipar, Panggang, Semanu, Gedangsari, Ngawen, Girisubo dan Purwosari.

Berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun ini terjadi hingga oktober mendatang. Sejatinya kekeringan dan krisis air bersih di Kabupaten Gunungkidul merupakan permasalahan tahunan. (sol)