Akhirnya, Warga Terdampak Bandara Mulai Pindahan

259
Hasto Wardoyo menyerahkan perabot rumah tangga untuk warga yang mulai menempati rumah di kawasan relokasi.(sri widodo/koranbernas.id)

 

KORANBERNAS.ID–Selasa siang (19/09/2017) warga terdampak bandara mengadakan selamatan dan doa bersama, memulai ritual pindah rumah. Dibawah tenda besar warga masyarakat sibuk menyiapkan sesuatu. Ada beberapa tumpeng dan ingkung diatas meja. Namun di kursi yang berjejer nampak belasan gulungan tikar atau karpet tebal.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo memang menginisiasi mengajak masyarakat untuk melaksanakan acara tersebut. Hal dilakukan atas permintaan PT Angkasa Pura, yang memberikan tenggat bagi warga untuk mengosongkan pemukiman mereka yang lama paling lambat 22 September.

Sebelumnya, warga meminta agar relokasi bisa ditunda hingga usai bulan Suro. Menurut mereka bulan Suro tidak baik untuk pindah rumah memasuki rumah baru.

Dalam acara tersebut Hasto dan pejabat lainnya hanya bisa menyertai satu keluarga yang benar-benar bisa masuk rumah baru direlokasi ini. Yaitu rumah milik Sudiro (60), dia dari Pedukuhan Bapangan.

“Saya sudah empat malam tidur di rumah ini. Tetapi belum semua perabot rumah saya bawa. Di rumah lama masih ada almari meja tamu dan meja teras serta mesin cuci. Nanti sore atau besok baru akan saya bawa kesini semua,” ujarnya kepada wartawan.

Pembangunan rumah relokasi Sudiro paling cepat selesai dikerjakan.

“Saya memperbanyak tenaga kerjanya. Tukang saya datangkan dari Pacitan dan Magelang,” katanya menjelaskan.

Di Bapangan ini baru ada tiga hingga empat rumah yang benar-benar sudah selesai pembangunannya. Padahal total rumah yang dibangun sebanyak 152 unit.

Rumah lainnya masih dalam proses pengerjaan, seperti finishing maupun pemasangan keramik untuk lantai. Namun banyak juga yang baru sampai tahap pengerjaan atap bangunan

Hal yang sama juga terlihat di area relokasi di Kepek. Di Kepek juga baru satu dua yang nampak sudah rapi.

“Rumah saya masih finishing. Makanya meskipun saya memasukkan perabot rumah tangga, tapi saya akan pindah usai Bulan Suro,” tutur Dasuki (62) mantan dukuh Kepek.

Menurut Dasuki, proses pembangunan rumah di area relokasi mengalami pembengkakan anggaran. Rumahnya tipe 60, direncanakan dibangun dengan pagu Rp 132 juta. Namun hingga saat ini sudah habis Rp200 juta, itupun belum semuanya selesai. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa pengembangan dari program yang telah direncanakan

Sementara, di Desa Jangkaran empat rumah yang dibangun nyaris selesai semua. “Rumah saya hampir selesai, tetapi saya tiap malam tidur di sana, anak dan istri yang masih dirumah lama,”tutur Suparja warga Jangkaran. Menurut Suparja yang benar- benar sudah jadi rumah Dasuki adiknya.

Kades Glagah Agus Parmono mewakili lima kades terdampak lainnya, menjelaskan, sementara ini kehidupan warga terdampak cukup sejahtera. Setiap keluarga dipastikan membeli mobil dan rumah mereka juga baru.

Namun Agus mengusulkan agar infrastruktur dan fasilitas umum dapat segera direalisir. Minimal dokumen regulasi dari Pemda.

“Yang sangat mendesak adalah kebutuhan pengurugan calon tempat memindahkan makam. Karena bila ada warga terdampak yang tiba-tiba meninggal, dia tidak bisa ditunda menguburkannya,” katanya

Bupati Hasto Wardoyo menyanggupi masalah pemakaman ini. Dia memberikan arahan strategi kebijakan dalam membangun fasilitas umum tersebut.

Misalnya dengan memberikan ganti rugi dalam membangun jalan lingkungan dengan memanfaatkan anggaran dana ganti rugi yang mencapai piluhan miliar rupiah.

Hasto berpesan agar pekerjaan dengan dana ganti rugi fasum desa segera dilaksanakan, mendukung proses kepindahan warga. Disamping itu ketika hujan datang agar dilakukan penanaman pohon perindang kompleks perumahan. (SM)