Aktivis Lingkungan Harus Agresif

3403
Peserta mengikuti pelatihan Pembentukan Kanal Komunikasi, Selasa (29/08/2017), di @HOM Platinum Yogyakarta. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Aktivis lingkungan tidak boleh hanya berdiam diri atau pasrah. Mereka harus agresif menyuarakan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat, mencari akar masalah tersebut dan berupaya ikut mencarikan solusinya.

Hal ini menjadi fokus pelatihan Pembentukan Kanal Komunikasi dalam Mengembangkan Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, Selasa (29/08/2017), di @HOM Platinum Yogyakarta. “Bapak dan Ibu nanti bisa menuliskan soal lingkungan,” ungkap Dwi Suyono, narasumber pelatihan itu.

Melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Jawa Bali Nusra, Dwi mengatakan inilah pentingnya pegiat lingkungan memiliki pengetahuan soal jurnalisme lingkungan.

Baca Juga :  “Setelah Makan, Nenek Berangkat ke Hutan...”

“Jurnalisme lingkungan ki apa? Ini dasar penulisan bagi para pegiat lingkungan. Jurnalisme lingkungan awalnya mengangkat masalah pencemaran lingkungan seperti kabut asap, satwa terancam punah dan pemanasan bumi,” paparnya.

Ada banyak contoh kasus yang bisa diangkat. Tak perlu jauh-jauh, cukup di sekitar lokasi masing-masing aktivis lingkungan. Misalnya, ketika hutan jati di Kulonprogo habis maka otomatis satwa ikut habis. “Itu bisa dieksplore kenapa sekarang susah golek manuk emprit. Kenapa udara makin panas,” ujarnya mencontohkan.

Sependapat, narasumber lainnya, Rulianto, menambahkan perlunya pegiat lingkungan fokus pada penulisan yang ada di sekitarnya, sekaligus yang menjadi bidang tugasnya. “Nggak usah bicara se-DIY. Malioboro, jalan sepanjang satu kilometer itu masalah pencemarannya bisa dituliskan macam-macam,” ujarnya.

Baca Juga :  Mikat Udan, Catatan Kecil Tapak Budaya Hujan

Kepala Seksi Kemitraan Lingkungan, Endah Sulistyowati S Hut menyampaikan, dengan mengikuti kegiatan kali ini diharapkan peserta memiliki keterampilan menyampaikan informasi.

Selanjutnya, mereka dapat memotivasi masyarakat agar ikut berpartisipasi secara aktif mendukung keberhasilan kegiatan perhutanan sosial dan kemitraan lingkungan. (sol)