Alat Berat Padati Calon Lokasi Bandara

276
Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati dan Pimpro Pembangunan Bandara NYIA Sujiastono memotong tumpeng dan diserahkan kepada dua anak yatim.(sri widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Pembangunan Bandara NYIA di Kulonprogo bulan Agustus ini benar benar dimulai. Beberapa hari yang lalu sejumlah alat berat telah datang ke Glagah. Bahkan Jumat siang kemarin PT Angkasa Pura menggelar acara tradisional ‘slametan’ di Palihan Temon, lokasi calon bandara.

Pimpro Pembangunan Bandara NYIA Sujiastono menyatakan, proses pembangunan dilakukan simultan dilaksanakan secara kerja sama dengan PT Pembangunan Perumahan (PP).

“Kita segera mulai melakukan pembangunan. Kalau banyak pertimbangan tidak akan mulai-mulai. Sementara Presiden dan Menteri Perhubungan sudah menargetkan tahun 2019 bandara sudah terwujud,”ujarnya.

Dikatakan, banyak hal dibicarakan orang tentang bandara ini. Namun prinsipnya menurut Sujiastono pembangunan bandara NYIA segera dilakukan. “Biarkan saja dan silahkan saja ada orang mau berdiskusi tentang tsunami dan gempa. Kami akan tetap membangun. Jepang itu negara yang rawan gempa dan tsunami, dia terus membangun,” ujarnya.

Diberikan gambaran ke depan, bandara NYIA dengan lebar landasan pacu 60 meter panjang 3.200 hingga 3.600 meter akan dapat didarati pesawat besar. Landasan pacu di Jogja ini akan lebih besar dan panjang ketimbang bandara di Bali.

“Di masa mendatang, banyak wisatawan akan ke Bali dengan pintu masuknya di Jogja.  Mereka berwisata dulu di Jogja, baru kemudian ke Bali,” katanya.

Bandara ini dipersiapkan akan mampu menampung 14 juta penumpang. Bahkan sesuai perkembangan ke depan akan menampung 24 juta penumpang setahunnya.

Alat berat mulai disiapkan

Humas PT PP, M Girsang menjelaskan pekerjaan fisik akan diawali dengan landclearing. Tanah diratakan dan ditata, pepohonan dibersihkan. “Kecuali pohon cemara udang yang ada akan kita tata. Kita juga akan mematangkan tanah untuk landasan pacu. Kemudian menentukan struktur bangunan sesuai sifat lahan yang ada,”ujarnya.

Girsang menjelaskan, untuk melakukan landclearing ini memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan.

“Pembangunan kita lakukan simultan. Artinya dalam waktu yang sama kita membangun landasan pacu, sementara kelompok yang lainnya juga membangun gedung perkantoran sesuai dengan gambar dan spesifikasi konsultan perencananya,” katanya.

Alat berat sekarang sudah siap bekerja, dan akan bertambah terus sesuai kebutuhan.

Girsang belum dapat menjelaskan, rekanan yang mungkin kerja sama dengan pihaknya. Karena masalah tehnis terus dikerjakan juga secara simultan.

Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati berharap, dalam pengerjaan proyek maupun operasionalnya PT Angkasa Pura tidak mengingkari apa yantg telah menjadi kesepakatan.

“Intinya harus melibatkan masyarakat setempat,”  tegasnya.

Selamatan ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Pimpro Pembangunan Sujiastono dan Ketua DPRD Akhid Nuryati. Potongan tumpeng diserahkan kepada dua anak yatim. Dalam kesempatan tersebut juga diberikan santunan kepada 40 anak yatim.(sri widodo/sm)