Alumni SPGN Purwokerto Reuni

227

KORANBERNAS.ID–Meskipun sekolahnya sudah bubar, namun lulusan Sekolah Pendidikan Guru Negeri (SPGN) Purwokerto tahun lulus 1985, masih terus menjalin tali silaturrahmi. Sekitar 200 alumni, Rabu (20/6/2018) menggelar reuni di RM Saung Purwokerto, berlangsung gayeng dan penuh keakraban. Tema reuni “Rika Teka, Inyong Bungah  (Kamu datang, saya senang-red)”.

Tidak hanya para alumni dari Purwokerto dan sekitarnya saja yang datang, namun dihadiri juga dari Jakarta dan Nusa Tenggara Barat.Mereka sebagian besar berprofesi sebagai guru SD,dan beberapa sebagai guru SMP, SMA, dosen, polisi, pegawai Pemda, dan wiraswasta.

Acara reuni nampak gayeng, setelah diisi berjoged bersama, nyanyi tunggal sumbangan alumni yang tampil bergantian, maupun lawakan-lawakan dari pembawa acara,Artati dan Irianto.

Baca Juga :  Giatkan Komunikasi, Warga Ringinharjo Manfaatkan HT

“Kami bersyukur,punya teman-teman yang sudah seperti saudara sendiri. Mari jalin terus tali silaturrahmi ini, untuk hal-hal yang baik,” ujar Suwito, ketua panitia reuni.

Suwito yang juga pegawai Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Banyumas ini mengemukakan, meskipun SPGN Purwokerto  sudah dilikuidasi oleh pemerintah pada tahun 1990,dan kini beralih menjadi SMAN 5 Purwokerto, namun para alumninya  tidak pernah putus tali silaturrahminya.

“Bahkan dua bulan sekali,kami kumpul-kumpul untuk saling berbagi informasi, berpindah tempat dari satu alumni ke alumni lainnya. Kami juga sering mengadakan anjangsana ke teman-teman maupun keluarganya yang sakit, meninggal dunia maupun hajatan,”ujarSuwito yang didampingi pengurus Paguyuban Alumni SPGN Purwokerto 85, Darsito dan Marwoto.

Baca Juga :  Ilmu Olahan Opak Singkong, Didapatkan Satgas TMMD Banjarnegara

Dalam reuni itu, diisi renungan yang dibawakan oleh Sudiro, SH,LLM, salah seorang alumni yang kini dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP). Sudiro yang juga dikenal sebagai pendakwah dan dalang ini menekankan, agar alumni SPGN Purwokerto  selalu ingat terhadap orang miskin.

  1. “Meskipun kita sudah kecukupan harta, janganlah sombong, dan tetaplah ingat orang miskin. Bersedekahlah kepada mereka, karena sejatinya harta yang kita miliki hanya titipan dari Yang kuasa,”  pesan Sudiro. (yve)