Alumni Tukang Bohong, IST Akprind Tanggung Malu

1065
Ijasah Dwi Hartanto. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Salah satu alumni Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind melakukan kebohongan. Dwi Hartanto, lulusan program Sarjana (S1) dari Teknik Informatika (TI) tahun 2005 mengaku-aku dirinya sebagai ahli dirgantara dan roket.

Dwi yang menjadi dosen di Belanda itu bahkan mengaku diminta mengembangkan pesawat jet tempur generasi keenam yang super canggih. Di media sosial miliknya pun, dia mengaku dekat dan bekerjasama dengan Presiden RI ke-3, BJ Habibie.

Namun kebohongan publik akhirnya terbongkar. Pihak kampus bahkan harus melakukan sejumlah klarifikasi tentang alumni mereka tersebut kepada sejumlah pihak.

“Kami sangat kecewa dan malu serta merasa bersalah. Karenanya kami memohon maaf kepada publik yang merasa dirugikan,” ujar Rektor IST Akprind, Amir Hamzah kepada awak media di kampus setempat, Selasa (10/10).

Baca Juga :  BKKBN DIY Punya Pejabat Baru

Amir menyebutkan, pihak kampus memiliki beban moral untuk meminta maaf pada BJ Habibie. Karenanya mereka akan eminta maaf kepada Habibie, baik secara langsung maupun tidak.

Walaupun kecewa, pihak kampus tidak akan melakukan langkah hukum seperti menuntut pencemaran nama baik. Kampus juga tidak akan melakukan pembatalan ijasah Dwi karena kebohongannya tidak terkait skripsi atau penelitian selama menjadi mahasiswa.

Sementara Dosen pembimbing Dwi Hartanto, Yuliana Rahmawati ST MT menjelaskan, Dwi sebenarnya merupakan salah seorang mahasiswa yang cerdas selama kuliah. Bahkan Dwi yang diwisuda 26 November 2005 berhasil meraih IPK 3,88 dengan predikat Cumlaude lewat judul skripsi ‘Membangun Robot Cerdas Pemadam Api Berbasis Algoritma Kecerdasan NN (Artificial Neural Network)’.

“Selama berkuliah tidak ada tanda-tanda dia melakukan kebohongan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Bhinneka Life Siap Saingi Dominasi Perusahaan Asing

Selama membimbing skripsi Dwi sekitar 6-8 bulan lamanya, Dwi sering menceritakan cita-citanya untuk bisa kuliah ke luar negeri. Di kampus dia juga dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan sepert masuk di tim robotika.

Karenanya Yuliana sangat menyanyangkan Dwi bisa melakukan kebohongan. Dia berharap mantan muridnya itu bisa memperbaiki sikapnya.

“Dia harus bisa menebus, datang ke kampus untuk minta maaf pada rektor dan civitas akademika,” tandasnya.

Ketua Yayasan Pembina Potensi Pembangunan (YPPP), Sagoro Wedi menjelaskan, kasus tersebut menjadi bahan evaluasi pihak kampus. Kampus harus menanamkan nilai-nilai karakter ke mahasiswa selain akademik.

“Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena Dwi sudah tidak berkuliah. Namun kedepan pihak kampus akan terus memperbaiki diri,” imbuhnya.(yve)