Ambil Hikmah dari Lakon Wahyu Cakraningrat

Suran 1440 H, GL Zoo Gelar Wayang Kulit Semalam Suntuk

567
Pergelaran wayang kulit di GLZoo Yogyakarta, Sabtu (15/09/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Wayang bukan sekadar tontonan tetapi juga tuntunan. Semua lakon cerita pewayangan pasti mengandung hikmah, termasuk lakon Wahyu Cakraningrat yang dipentaskan di halaman gerbang timur (pintu masuk) Gembira Loka Zoo (GL Zoo), Sabtu (15/09/2018) malam.

Kali ini, dalang Ki Catur “Benyek” Kuncoro dipercaya membawakan lakon tersebut. “Semoga kita memperoleh pelajaran dan dapat mengambil hikmah dari lakon Wahyu Cakraningrat,” ungkap Drs GBPH Yudhaningrat MM.

Kerabat Keraton Yogyakarta yang juga Ketua Yayasan Gembira Loka Yogyakarta ini berharap obyek wisata GLZoo ke depan depan lebih maju, nyaman, tenteram, jauh dari bencana serta terjauhkan dari konflik internal maupun eksternal.

Didampingi Dirut GLZoo KMT A Tirtodiprojo dan Direktur BPH Harimurti, sesaat sebelum menyerahkan tokoh wayang kulit kepada dalang menandai dimulai pergelaran  semalam suntuk, Gusti Yudha menyampaikan apresiasi untuk semua pihak yang memberikan dukungan.

“Pergelaran wayang kulit ini dalam rangka nngur-uri budaya Jawa,  bertepatan dengan bulan Sura,” tuturnya.

Gusti Yudha mengakui, lakon Wahyu Cakraningrat memang identik dengan gambaran perebutan kekuasaan.

Dikisahkan, Prabu Duryudana bersedih begitu mengetahui putranya, Raden Sarojakusuma menghilang. Pandhita Durna mengatakan Sarojakusuma pergi ke Hutan Krendhawahana untuk mendapatkan Wahyu Cakraningrat yang diturunkan para dewa.

Berangkatlah Kurawa menyusulnya. Di hutan yang sama, Raden Setyaki bersama Patih Undawa ternyata sudah menunggu Raden Samba yang bertapa demi menggayuh Wahyu Cakraningrat.

Di luar hutan, Setyaki bertempur melawan Kurawa memperebutkan siapa yang berhak masuk hutan. Raden Sarojakusuma meminta bantuan Bathari Durga.

Di kahyangan, Bathara Guru bersama Narada mengutus Wahyu Cakraningrat turun ke bumi tetapi dihadang Bathari Durga.

Walaupun Raden Sarojakusuma bisa mendapatkan Wahyu Cakraningrat, karena tidak sejiwa akhirnya oncat dari raganya.

Akhirnya menitislah ke Raden Samba. Lagi-lagi, karena Raden Samba congkak, Wahyu Keprabon itu keluar dari raganya.

Singkat cerita, Wahyu Cakraningrat berhasil masuk (manjing) ke raga Abimanyu yang sedang bertapa, kelak Abimanyu yang dapat menurunkan raja di Tanah Jawa.

Gusti Yudha menyerahkan wayang kepada dalang  Ki Catur “Benyek” Kuncoro. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Pergeleran wayang kulit kali ini selain dihadiri jajaran direksi, komisaris serta karyawan GL Zoo, juga memperoleh respons positif dari masyarakat.

Ini sesuai harapan KMT A Tirtodiprojo, pementasan kesenian warisan nenek moyang tersebut diminati penonton dari berbagai kalangan usia. “Pementasan wayang kulit ini sebagai sarana menggali dan melestarikan budaya,” kata dia

Humas GL Zoo, Eros Yan Renanda, menjelaskan pementasan wayang kulit tersebut dalam rangka Suran 1440 H. “Pergelaran ini untuk memberikan hiburan bagi masyarakat, khususnya warga di sekitar Gembira Loka,” ujarnya. (sol)