Amien Rais Seharusnya Tidak Takuti Masyarakat dengan Pernyataan Kontroversial

786

KORANBERNAS.ID — Sejumlah budayawan di Yogyakarta menyayangkan pernyataan dari mantan Ketua MPR RI, Amien Rais, soal partai setan dan partai Allah.

Mestinya seorang politikus senior mampu menjaga ucapannya supaya tidak menimbulkan ketakutan di tingkat akar rumput.

“Saya kira sudah banyak yang berkomentar ya. Ucapan politikus senior seharusnya tidak seperti itu karena bisa memecah belah bangsa,” ungkap Hari Dendi, salah seorang budayawan Yogyakarta, Selasa (17/04/2018).

Dia menilai, munculnya statemen tersebut bisa jadi sebagai alat untuk meraih suara seperti halnya pada Pilkada DKI lalu.

Yang pasti, dikotomi tersebut sasarannya adalah politis. “Mungkin juga test case, kita juga tidak tahu. Saya menikmati saja melihat bagaimana ramainya elit di Jakarta,” kata Hari Dendi setengah bercanda.

Seniman dan juga budayawan, Totok Sudarwoto, menyatakan dari sisi kebudayaan persoalan tersebut bisa jadi merupakan narasi besar untuk bangsa yang membutuhkan rasa aman, damai dan rukun agawe santosa.

“Jadi, pernyataan para tokoh mbok jangan mendikotomi, memisahkan yang satu ini yang satu itu. Apakah ini kreativitas, kritik ataukah hal-hal yang harus hindari di tahun politik?” kata dia.

Atau, memang sengaja masalah itu dicari-cari dengan tujuan supaya tiap hari namanya bisa muncul sepuluh kali di setiap handphone. Dalam tanda petik, meski kontroversial tetapi viral sehingga namanya terus disebut.

Baca Juga :  Tinggal Sendiri, Supriyanto Gantung Diri

Setelah berpikir dan merenung, Totok menyayangkan hal itu. “Mbok jangan mengorbankan kepentingan bangsa,” kata dia.

Gerakan kebudayaan

Sebagai seniman, wajar bila dia khawatir mendekati 2019 jangan-jangan politik makin kisruh. Untuk menetralisir, dia mengusulkan gerakan kebudayaan yang tidak memusingkan parpol.

“Bukan golput tapi gerakan kebudayaan dengan tetap membawa kepentingan bangsa, nasionalisme dan NKRI. Tahun politik boleh ramai tapi di sisi lain suasananya tetap sejuk, aman dan damai,” paparnya.

Karena itu dia mengimbau para seniman, budayawan dan tokoh panutan khususnya di DIY jangan kepancing. “Kita tetap lurus untuk bangsa ini. Mari riuh rendah tahun politik ini diimbangi riuh damai. Kita tetap rukun, tetap menghargai hak politik,” kata dia.

Dia menegaskan, gerakan politik perlu diimbangi gerakan kebudayaan. Semua dipikir secara tenang sehingga tidak terjadi saling caci maki dan ngelek-elek satu sama lain.

“Yang kasihan rakyat. Bingung mikir. Saya mengimbau tahun politik jangan justru dijadikan momok tapi jadikan tahun kebudayaan,” kata dia.

Baca Juga :  Goa Ngingrong Berubah Warna Jadi Merah Putih
Eko Suwanto. (istimewa)

Jauhkan rakyat

Sebelumnya, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, juga menyayangkan pola kategorisasi dan pilihan diksi elit justru menjauhkan rakyat dalam upaya keluar dari rantai kemiskinan dan kesenjangan ekonomi.

“Ada yang memberi label partai setan, rasanya wacana politik kita, pernyataan Amien Rais merupakan ancaman serius bagi demokrasi dan keutuhan bangsa,” ujarnya, Minggu (15/04/2018).

Menurut dia, masyarakat Jogja sungguh sedih dan malu dengan tindakan dan pernyataan Amien Rais. Pernyataannya tidak mencerminkan nilai-nilai kejuangan dalam sejarah Jogja di mana Keraton Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman dan rakyat Jogja bersatu padu berjuang merebut kemerdekaan.

Bahkan Jogja memiliki sejarah sebagai Ibukota RI saat krisis. Sejarah perjuangan rakyat Jogja bersama Keraton dan Kadipaten Pakualaman ini sangat heroik dan menanamkan nilai-nilai betapa pentingnya menjaga kemerdekaan dan keutuhan bangsa dengan pengorbanan jiwa raga dan harta, demi Indonesia raya.

Dia menambahkan, pernyataan Amien Rais bertentangan dengan nilai nilai kejuangan dan keistimewaan DIY yang berkomitmen mewujudkan bhinneka tunggal ika dan persatuan bangsa Indonesia.

“Kita harapkan Amien Rais meminta maaf kepada masyarakat khususnya warga Jogja yang menjunjung tinggi kemuliaan dan kerukunan sesama warga,” kata Eko Suwanto. (sol)