Anak-anak Bertaruh Nyawa Demi Menuntut Ilmu

171
Dua siswa Dusun Kedungjati Desa Selopamioro Imogiri Bantul harus menggunakan rakit untuk menyeberangi Sungai Oya, Senin (12/02/2018) siang, sepulang sekolah, karena jembatan putus. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Raut wajah Rina Tri Rihadatul Fatimah dan adiknya Rino Ahmad warga Dusun Kedungjati Desa Selopamioro Imogiri Bantul tetap terlihat ceria dan sumringah, Senin (12/02/2018).

Padahal, mereka bertaruh nyawa menyeberangi Sungai Oya untuk berangkat dan pulang sekolah menggunakan rakit bambu yang dikemudikan oleh orang tua, kakeknya ataupun relawan secara bergantian.

Ya, sejak jembatan penghubung antara Kedungjati dengan Kedungmiri Desa Sriharjo tempat mereka menuntut ilmu diterjang banjir bandang 28 November tahun lalu, praktis  sarana rakit menjadi pilihan. Karena jika mereka harus memutar jalan, jaraknya jauh dan berliku naik turun.

Nggak takut, tetap mau bersekolah,” kata Rino yang dibenarkan Rina kepada wartawan saat menyerahkan bantuan alat sekolah dan uang stimulan pembangunan jalan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) di dusun tersebut Senin (12/2/2018) siang.

Penyerahan alat sekolah dan dana stimulan pembangunan jalan dilakukan oleh Ketua Forum Pewarta Bantul (FPB),  Santoso Suparman, dan bendahara FPB, Sari Wijaya kepada Kasi Pelayanan Desa Selopamioro, Danang Kumoro Jati.

Baca Juga :  Para Guru Baca Puisi di Tangga

Menurut Rina setiap hari  dirinya menyeberang menggunakan rakit bambu untuk pulang dan pergi sekolah. Sebelumnya harus berjalan ratusan meter dari sekolah ke tempat rakit ditambatkan.

Secara bergantian orang tua, kakek atau relawan di tempat tersebut mengemudikan rakit. Karena arus deras tidak jarang relawan terpaksa turun ke sungai dan mendorong rakit agar tetap bisa menyeberang sungai tersebut.

Ada juga sahabat Rina yang bersekolah menyeberang menggunakan ban dan ember besar untuk sampai ke sekolahnya.

Mbah Mijan kakek  Rina dan Rino mengatakan setiap hari dirinya  menyeberangkan cucunya tersebut untuk bersekolah.

“Kalau pagi bapaknya yang mendorong rakit atau mengemudikan, siang begini saya yang gantian menjemput mereka,” katanya.

Forum Pewarta Bantul (FPB) menyerahkan bantuan  alat sekolah dan uang untuk pembangunan akses jalan di Dusun Kedungjati Desa Selopamioro Imogiri yang rusak diterjang banjir November tahun lalu. (istimewa)

Danang Kumoro Jati mengatakan jembatan penghubung antara Kedungmiri dengan Kedungjati hilang diterjang banjir bandang  28 November silam. “Mereka menggunakan rakit karena lebih cepat ke sekolah. Kalau memutar jalannya sangat jauh,” katanya.

Baca Juga :  Nyamuk DB Tak Lagi Betah di Rumah

Pasca-banjir hingga saat ini warga Dusun Kedungjati memang mengalami kesulitan akses karena jalan ambrol.  Ada dua rumah yang lokasinya sangat jauh, harus jalan kaki hampir 2 kilometer melewati tepian sungai  yang medannya berliku dan naik turun. Salah satunya rumah orang tua Rino dan Rina tersebut.

Sedangkan Santoso Suparman mengatakan bantuan lima paket alat sekolah bagi anak Kedungjati yang sekolah di SD Kedungmiri dan pemberian bantuan dana pembangunan jalan dilakukan dalam rangka HPN yang jatuh 9 Februari.

“Kami berharap bantuan ini bisa bermanfaat bagi anak-anak dan juga masyarakat Kedungjati,” kata Santos, panggilan akrabnya. Bantuan ini juga sebagai wujud empati dari insan media kepada mereka yang ditimpa kesusahan.

Sari Wijaya menambahkan bantuan tersebut bersumber dari patungan seluruh anggota FPB. ”Dari dana yang terkumpul tersebut kemudian kita salurkan. Semoga bermanfaat,” katanya. (sol)