Anak-anak Tirukan Gerakan Ayam

238
Penampilan peserta Festival Dolanan Anak di lapangan Denggung Tridadi Sleman, Selasa (24/04/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID Aku duwe pitik, pitik tukung. Saben dina, tak pakani jagung. Petok gogok petok petok ngendhog siji. Tak teteske, kabeh trondhol dhol dhol. Tanpa wulu, megal-megol gol gol gawe guyu.

Dengan mengenakan pakaian tradisional dan bertopeng daun pisang menyerupai paruh ayam, anak-anak itu melantunkan lagu Pitik Tukung sambil menirukan gerakan ayam yang sedang mengepakkan sayap.

Dengan lancar, sejumlah permainan klasik yang dipadukan drama khas ditampilkan oleh 17 grup/kelompok. Mereka merupakan wakil dari 17 kecamatan se-Kabupaten Sleman yang mengikuti Festival Dolanan Anak, Selasa (23/04/2018), di Lapangan Denggung Kabupaten Sleman.

Pementasan yang diadakan oleh Dinas kebudayaan Kabupaten Sleman tersebut berhasil membuat para penonton tertawa melihat tingkah anak-anak yang lugu berlaga bak seorang aktor papan atas yang bermain di layar lebar. Kegiatan tersebut berhasil menghibur dan menarik minat masyarakat.

Agar lebih menarik minat masyarakat, sajian Festival Dolan Anak kali ini dikemas dalam bentuk drama yang dipadukan dengan permainan tradisional anak. Sehingga, permainan anak tersebut lebih menarik dan atraktif.

Kepala Dinas Kebudayaan Sleman, HY Aji Wulantara SH Mhum, mengatakan Festival Dolanan Anak dimaksudkan untuk menjaga eskistensi kesenian dolanan anak di era globalisasi saat ini.

Melalui festival tersebut Aji mengajak masyarakat untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kesenian dolanan anak.

Dengan memberikan ruang berekspresi, dia berharap seniman dan masyarakat terus mengembangkan dan melestarikan seni khususnya terkait dengan dolanan anak.

Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Arif Haryano SH, menyampaikan Festival Dolanan Anak merupakan proses pendidikan agar anak-anak mengerti jati diri kesenian daerahnya.

“Selain sebagai sarana bermain dan belajar, dolanan anak merupakan langkah strategis untuk melestarikan kesenian daerah yang mulai pudar di era globalisasi,” kata Arif.

Anak-anak zaman sekarang lebih sering menghabiskan waktunya dengan gadget dibandingkan bermain permainan tradisonal.

Apabila hal ini terus dibiarkan maka generasi akan datang tidak mengenal mengenal budayanya termasuk dolanan anak.

Permainan tradisional tidak hanya sebuah permainan melainkan di dalamnya terdapat nilai-nilai luhur yang akan terbawa dalam pola kehidupannya sehari-hari.

“Anak akan belajar nilai sportivitas, kerja sama, gotong royong dan sebagainya. Semua dapat diperoleh dari berbagai macam dolanan anak,” kata Arif.

Dia berharap kegiatan tersebut ada kelanjutannya dan dikemas menarik sehingga dapat menjadi produk wisata bernilai ekonomis.

“Selain untuk pelestarian budaya kegiatan ini dapat dikembangkan menarik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri,” kata Arif.

Adapun juri dalam festival tersebut yaitu Joko Suseno dari ISI Yogyakarta, GS Darto sebagai praktisi dan Lilin Candrawarti dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Kabupaten Sleman. (sol)