Ancaman Bangsa Bukan Lagi Agresi Militer

121
Purwatno Widodo tukar menukar cinderamata dengan Pejabat Perwakilan Kementerian Pertahanan perwakilan Wilayah DIY, Kolonel Infantri Edi Santoso, Rabu (28/03/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID–Dalam rangka menumbuhkan rasa bela negara dan cinta Tanah Air, Perwakilan Kementerian Pertahanan (PKP) DIY bekerjasama dengan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman menggelar Seminar Pertahanan Semesta bertempat di Ruang lantai III Sekertariat Daerah Kabupaten Sleman, Rabu (28/03/2018).

Selain diikuti oleh Perangkat Daerah, seminar tersebut juga dihadiri oleh Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh masyarakat, dan akademisi.

Dalam kesempatan tersebut Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Purwatno Widodo  menyampaikan, seminar tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para peserta untuk menimba informasi sebanyak – banyaknya. Juga sebagai wadah untuk berintegrasi di antara lapisan masyarakat mengingat beragamnya kondisi etnis penduduk yang ada di Sleman.

Baca Juga :  Sleman Segera Miliki Creative Space

“Menjaga kedaulatan dan pertahanan negara adalah tanggung jawab semua elemen masyarakat dan bangsa Indonesia,” kata Purwanto.

Ia juga mengimbau Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) saling bersinergi sehingga terciptanya keamanan dan kenyamanan kehidupan.

Sementara  Pejabat Perwakilan Kementerian Pertahanan perwakilan DIY, Kolonel Infantri Edi Santoso mengungkapkan, perkembangan kemajuan zaman akan selalu berimplikasi pada hadirnya ancaman-ancaman terhadap kedaulatan negara.

Tak hanya itu, masalah dari dampak negatif IT yaitu perkembangan media-media mainstream, sosial media dengan muatan informasi dan juga paham-paham yang dengan mudah diakses dan dapat merubah moral serta kepribadian warga negara.

“Ancaman nyata yang kita hadapi pada kondisi saat ini di adalah bukan lagi tentang agresi militer tetapi non agresi seperti konflik sosial, hoax, dan penyebaran paham – paham radikal,” kata Edi.

Baca Juga :  Nuklir Belum Banyak Jadi Kajian PT

Menghadapi ancaman-ancaman ini, sangat penting untuk melaksanakan pembinaan kewaspadaan diri, bela negara, diplomasi, iptek, ekonomi, sosial, moral dan dukungan penyelenggaraan pertahanan negara.

“Dengan demikian kita dapat bersama-sama meminimalisir dampak terjadinya ancaman-ancaman tersebut,” katanya.

Edi menuturkan strategi yang diterapkan yakni peningkatan fungsi pertahanan dan keamanan pada pusat kegiatan di wilayah perbatasan negara.

“Yaitu melalui penetapan zona penyangga yang berfungsi untuk pengamanan,” katanya. (SM)