Anggi Tak Pernah Kehilangan Rasa Percaya Diri

214
Anggitasari selalu penuh rasa percaya diri. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Suaranya jernih. Orang Jawa bilang cemengkling. Wawasannya luas sebagai pemandu acara pada workshop tentang difabel, Rabu (29/11/2017), di Hotel Arjuna Yogyakarta. Suasana begitu cair. Peserta awam yang terdiri dari sejumlah wartawan di Jogja, bisa langsung ngeh.

Namanya Anggitasari Puji Aryati, akrab disapa Anggi.  Sebelum melihat dia, tak seorang pun peserta  menduga pemilik suara itu gadis mini. Berbeda dengan orang sebayanya, pada usia 37 tahun itu tinggi badannya 1 meter lebih 5 senti.

Tetapi kondisi fisik ini tidak menjadikan wanita yang tinggal di kawasan Klitren ini kehilangan rasa percaya diri.  Anggi adalah sarjana Sastra Perancis UGM dan setelah itu kuliah di Theologi Universitas Duta Wacana. Tapi  berhenti sampai pembuatan tesis.

Tekat dan kemampuannya membawanya melanglang berbagai negara dalam urusan kemajuan kaum difabel. Di antaranya ke Swiss, Malaysia, Filipina, Thailand, Timor Leste, Belanda, Jerman.

Anggi sejak lama di berkiprah di YAKKUM, lalu di sebuah LSM di Jerman, dan terakhir hingga kini  giat di Handicap International yang berpusat di Prancis.

Meski lahir dalam kondisi fisik berbeda dengan yang lain, namun sejak kecil Anggi sudah menggantungkan cita-citanya setinggi  langit. Dia tidak mau hanya jadi “orang rumahan”.

Baca Juga :  Karya UMKM Batik di Sleman Dapat Panggung

Di tengah stigma dan persepsi masyarakat penyandang disabilitas adalah orang lemah, perlu dibantu dan jadi obyek, justru Anggi berpikir sebaliknya.  Dia bisa menunjukkan kompetensinya, mandiri dan bisa berbuat untuk masyarakat, khususnya untuk para difabel.

Pernah di-bully

Di sekolah dasar, Anggi ikut latihan menjadi pengibar bendera pusaka atau Paskibraka . “Meskipun saya sadar, tidak mungkin saya terpilih. Tetapi saya sudah menunjukkan, saya pun bisa mengikuti proses latihan seperti kawan-kawan saya,” kata Anggi menjawab pertanyaan koranbernas.id, di tengah kesibukannya memandu acara.

Pada tataran berikutnya, dia pun aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS. Itu semua untuk menunjukkan eksistensi diri sekaligus menghapus stigma miring selama ini. Dia tak mau menjadi beban orang lain, termasuk orangtua dan saudaranya.

Sebagai orang yang beda dengan yang lain, Anggi mengaku pernah di-bully. Sejak masih SD perlakuan ini diterima bahkan sampai SMA. Wajar hal itu menjadikannya sedih.

Bahkan dia mengaku pernah putus asa. Untunglah, orangtua dan saudaranya memberikan spirit pada Anggi untuk bangkit. Dia merasa beruntung, punya orangtua yang sangat mengerti. Protek, tapi tidak mengekang.

Perlakuan yang tidak menyenangkan juga diterima ketika dia akan menjalani tes masuk di Theologi  UKDW. Tentu pahit rasanya Anggi mendengarnya. Tetapi itu justru menjadi penyemangat untuk maju terus. Meskipun akhirnya dia tinggalkan sampai pada tahapan disertasi.

Baca Juga :  Lokasi Proyek Disebut Rawan Longsor, Pengembang Siap Tuntut Pakar Geologi UGM

Mobilitas yang tinggi, tentu harus didukung sarana pendukung. Dulu dia menggunakan angkutan umum, bus dan kereta api. Tetapi karena minimnya kedua jenis angkutan umum tersebut dengan fasilitas untuk difabel, akhirnya Anggi memilih sepeda motor yang dimodifikasi untuk difabel. Tiga roda sebagai penyangga, menjamin pengemudinya dari kemungkinan terjatuh.

Wah, Mbak Anggi kalau naik sepeda motor ngebut,” kata Agoes Widhartono, sesama pegiat di HDI mengomentari. Anggi pun membantahya sambil tersipu malu. Dengan sepeda motor khusus itu, Anggi sangat terbantu mendukung kegiatannya yang cukup padat.

Ke depan, bersama teman-teman yang empati pada kaum difabel, Anggi akan tetap konsisten memperjuangkannya. Meskipun dia harus berbagi waktu, karena dia harus merawat ayah ibunya yang sedang sakit.

Ini merupakan bakti anak kepada orangtua. Apalagi dia hanya dua bersaudara dan  kakaknya  kini tinggal di Myanmar.  Ini dijalaninya dengan ikhlas, sebagaimana dulu orangtuanya dengan ikhlas merawat, membesarkan dengan penuh cinta. Dia kini menunggu  hadirnya sang Arjuna yang akan mempersuntingnya. Dan sang calon itu sudah ada. (sol)