Anggota DPRD DIY Bangun Klinik untuk Pasien Cuci Darah

569
Bupati Sleman Sri Purnomo meresmikan Klinik Utama Damai Sejahtera dan Klinik Dialisis Damai Sejahtera di Jalan Damai No 12 Sinduharjo Sleman, Rabu (16/05/2018). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Merasa prihatin dengan banyaknya pasien yang harus menjalani cuci darah, anggota DPRD DIY dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), H Sukamto SH, membangun klinik, yang diberi nama Klinik Utama Damai Sejahtera dan Klinik Dialisis Damai Sejahtera.

Fasilitas kesehatan yang berada di Jalan Damai No 12 Sinduharjo Ngaglik Sleman tersebut, Rabu (16/05/2018), diresmikan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo. Didampingi Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, Sukamto serta Ir Hj Suharni Sukamto, Bupati Sleman Sri Purnomo memotong pita menandai dimulainya pelayanan kesehatan di klinik tersebut.

Hadir pula Kepala Dinas Perizinan Sleman, Kepala Dinas Kesehatan Sleman, jajaran Muspika Ngaglik serta tamu undangan.

Kepada wartawan sebelum acara peresmian Sukamto menyampaikan, dirinya merasa prihatin terhadap anak-anak muda yang usianya di atas 30 tahun sudah ada yang rutin menjalani cuci darah. Ini karena faktor pola hidup mereka yang terkesan mengabaikan kesehatan.

Karena itu, Sukamto mengimbau mereka yang suka minum minuman keras (miras) hendaknya berhenti. Miras merupakan salah satu penyebab anak muda mengalami gangguan fungsi ginjal serta organ tubuh lainnya hingga harus menjalani cuci darah.

“Kami tidak ingin yang terkena makin banyak. Kami mengimbau yang sehat-sehat betul-betul menjaga kesehatannya. Saya tidak pernah merokok. Minuman saya yang paling keras itu Sprite, waktu saya masih jadi polisi,” kata Sukamto sambil berkelakar.

Baca Juga :  Pola Kerja Birokrasi Harus Berubah
H Sukamto SH menunjukkan peralatan Klinik Utama Damai Sejahtera dan Klinik Dialisis Damai Sejahtera. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Klinik Utama Damai Sejahtera dan Klinik Dialisis Damai Sejahtera dilengkapi enam unit peralatan cuci darah yang masih gres alias baru asal Jerman.

Usai peresmian klinik tersebut, dijadwalkan pekan depan mulai dibangun gedung tambahan di atas lahan di sebelah bangunan klinik tersebut. Perizinannya sudah lengkap. “Akan kami bangun tiga lantai dilengkapi lift,” kata Sukamto.

Selaku pimpinan CV Damai Sejahtera, Sukamto tertarik mendirikan klinik di wilayah tersebut dalam rangka membantu pemerintah melayani masyarakat di sektor kesehatan. “Sesuai anjuran dari pemerintah di tempat ini perlu ada klinik,” kata dia.

Apalagi lokasi klinik tersebut jauh dari rumah sakit. Di sekitar kawasan Jalan Damai sebagai pusat kuliner yang relatif hidup 24 jam, juga terdapat banyak perumahan.

Sebagai gambaran, kata Sukamto, untuk mengakses layanan RSUP Dr Sardjito saja warga harus antre ambil nomor sejak sebelum Subuh. Itu pun sudah dapat nomor ratusan.

“Contoh, pekerja di tempat saya sudah empat bulan cari antrean untuk operasi sampai sekarang belum dapat. Jika harus antre untuk cuci darah bagaimana?,” ungkap Sukamto.

H Sukamto SH dan Bupati Sleman Sri Purnomo. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Meski dari latar belakang Sarjana Hukum bersama istrinya dengan latar belakang Sarjana Teknik, Sukamto bersyukur klinik tersebut terwujud.

Ini semua tidak lepas dari bantuan Bupati Sleman, RSUD Sleman, Dinas Perizinan serta semua pihak yang peduli dengan layanan kesehatan untuk masyarakat.

Baca Juga :  Hapal Alquran, 20 Mahasiswa Raih Beasiswa

Atas nama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Sri Purnomo menyampaikan ucapan selamat berdirinya klinik tersebut.

“Tempat ini strategis, ramai dan warganya bervariasi serta agak jauh dari klinik lainnya. Saya percaya klinik ini akan menjadi fasilitas yang bagus untuk pengecekan kesehatan,” kata dia.

Menurut Sri Purnomo, saat ini di Kabupaten Sleman terdapat 28 unit Rumah Sakit Umum serta 76 Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.

Bupati Sleman Sri Purnomo meninjau ruangan klinik. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Banyaknya fasilitas kesehatan itu jangan diartinya warga Sleman banyak yang sakit, tetapi memiliki kesadaran menjaga kesehatannya. Bahkan, Sleman menduduki peringkat atas untuk rujukan orang yang berobat dari berbagai daerah di Indonesia.

“Jangan bayangkan rumah sakit di Sleman melayani warga Sleman saja, tetapi melayani warga se-Indonesia. Dari BPJS, tiga kali lipat masuk ke Sleman. Jadi, tidak usah berobat ke Singapura, Malaysia dan India, tapi cukup di Sleman,” kata dia.

Mengingat pentingnya pelayanan kesehatan, Sri Purnomo meminta jajaran Klinik Utama Damai Sejahtera dan Klinik Dialisis Damai Sejahtera segera mengurus kerja sama dengan BPJS Kesehatan. “Cuci darah itu berat jika tidak pakai BPJS,” kata dia.

Menanggapi hal itu, Sukamto menyampaikan proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan sedang dalam proses. Sekali cuci darah, seorang pasien memerlukan biaya di atas Rp 1 juga, jika satu bulan biayanya mencapai di atas Rp 18 juta. (sol)