Anggota Komunitas Ini Wajib Menulis Buku

193
Anak anak Generasi Muda Penggemar Guru Bangsa berdialog dengan Abdi Dalem Pangarsa PWS Yogyakarta Drs Oka Kusumayudha. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Kehadiran anak-anak usia SD, SMP, SMA pada acara Diskusi Kebangsaan XI yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta di Sekretariat DPD RI DIY  Senin (11/12/2017) mengundang banyak perhatian.

Ini memang tidak lazim, sebab diskusi tersebut diperuntukkan mahasiswa, dewasa, pejabat, organisasi profesi, tokoh masyarakat serta lansia anggota PWS.

Ternyata anak-anak ini bagian dari komunitas Generasi Muda Penggemar Guru Bangsa. “Komunitas ini beranggotakan mulai murid SD dan SMP. Sedang  yang sudah di SMA serta mahasiswa sebagai mentor,” kata Ayuningtyas Rahmasari, ketua komunitas tersebut. Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini sudah dua kali menjadi ketua.

Kegiatannya pun beragam dengan orientasi membangun masa depan, cinta bangsa dan negara dengan mengaca pada perjuangan bapak bangsa dan tokoh-tokoh yang pantas diteladani.

Anggota komunitas ini juga sering menulis buku. Bahkan semua punya kewajiban menulis, termasuk anggota paling muda, Eci, yang masih duduk di kelas 3 SD Mangunan Berbah Sleman.

Profil Generasi Muda Penggemar Guru Bangsa. Ada anggota terkecil, Eci, pelajar kelas 3 SD.  (arie giyarto/koranbernas.id)

Adapun buku yang pernah dilaunching tentang Gus Dur, disusul tentang GKR Hemas. Untuk buku GKR Hemas yang dilaunching di Keraton Kilen, berbicara mengenai kepemimpinan Kanjeng Ratu Hemas, permaisuri Raja Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat yang sekaligus Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurut Ayu, anak-anak berkelompok sering mengunjungi tempat tertentu yang memiliki nilai edukasi. Di antaranya museum, untuk  belajar tentang sejarah perjuangan bangsa.

Baca Juga :  PUG, Membuat Fiji Ngebet Pengin Kerja Sama

Selain melihat koleksi dan mendapatkan penjelasan petugas, anak-anak pun diwajibkan menulis. Ada juga keterampilan fotografi. “Kami ingin menggali potensi masing-masing anak untuk dikembangkan,”  lanjut Ayu.

Selain itu, anak-anak belajar membuat film bernuansa pendidikan. Dibimbing para mentor, seluruh prosesnya dikerjakan anak-anak.

Ada pula film mengangkat kisah nyata tentang sosok murid SD bernama Nara. Sebagai murid baru, Nara menjadi rebutan Buntutnya terjadi ketibutan dua kelompok yang memperebutkan Nara. Cerita pun berakhir happy ending,  mereka damai, karena Nara sendiri tidak senang dirinya diperebutkan.

“Pesan moral yang ingin kami sampaikan adalah jangan pilih-pilih teman. Semua teman sama saja, dan keributan harus dicegah. Menjaga persatuan dan kesatuan,” kata Caecilia Ega Sanjaya.

Murid SMP Pangudi Luhur 1 Yogyakarta itu menjadi sutradara sekaligus pemain. Ada juga film berjudul  Korupsi Berawal dari Susu, dengan muatan  pesan moral menghindarkan diri dari hedonisme.

Bertemu tokoh

Kegiatan komunitas ini punya home base di rumah (almarhum) Romo Mangun. Dalam upaya mengasah kemampuan pikir dan memperluas wawasan, komunitas ini sering berdiskusi, mendatangkan tokoh untuk menjadi narasumber.

Di antaranya Hery Zudianto, mantan Walikota Yogyakarta. Juga Dr Deny Indrayana yang saat itu masih menjabat Wakil Menteri Hukum dan HAM.

“Sebuah prestasi, ada anggota yang masih sekolah di SMA bisa mendatangkan Pak Deny, seorang wakil menteri dengan gratis. Untuk menjadi narasumber diskusi komunitas kami,” kata Tyas tentang kegiatan mereka.

Baca Juga :  PMKRI Bangun Bangsa dengan Semangat Pancasila

Hal positif dari kegiatan ini adalah mendidik generasi muda sedini mungkin tentang kepemimpinan, antikorupsi dan mencintai bangsa dan negara. Inilah implementasi dari sebagian konsep pendidikan karakter yang tengah digalakkan pemerintah.

Banyak sekali kegiatan. Lalu dari mana dana untuk membiayai? “Alhamdulillah, ada donatur baik pribadi maupun lembaga,” kata Ayu yang tinggal di Jalan Tohpati  Mergangsan itu.

Anak-anak juga sering diajak berjualan kue atau minuman di Malioboro. Selain untuk mendidik keberanian dan membuang rasa malu bekerja halal yang notabene biasanya dilakukan oleh masyarakat akar rumput,  mereka juga bisa merasakan sulitnya mencari uang.

Menurut Ayu, tidak berhenti sampai jualan saja, tetapi mereka juga mengenalkan komunitas sekaligus  melakukan kampanye antikorupsi.

Di tengah banyaknya remaja dengan perilaku menyimpang yang meresahkan masyarakat, tentu ini merupakan sebagian kecil anak-anak dan remaja yang patut diacungi jempol.

Mumpung masih anak-anak, nilai-nilai kebaikan itu harus ditanamkan sedini mungkin. Pasti dengan catatan, kegiatan itu tidak boleh mengganggu sekolah dan kuliah mereka.

Masih  banyak sekali remaja berprestasi baik secara akademik maupun sosial kemasyarakatan, sayang gaungnya di media massa kalah seksi dengan isu klithih, seks pranikah, kehamilan tak dikehendaki, pencurian, narkoba dan sebagainya. (sol)