Angkutan Umum Gratis Salah Sasaran

118
Angkutan pedesaan  di terminal non bus  Kebumen  yang melayani penerima manfaat program angkutan umum gratis. (nanang wh/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Program angkutan umum gratis yang diiluncurkan Bupati Kebumem non-aktif Yahya Fuad semester II tahun anggaran 2016, ternyata masih menyimpan masalah.

Panitia khusus (Pansus) II  DPRD  Kabupaten Kebumen membahas Raperda  Penyelenggaraan Perhubungan itu dan diketahui cukup banyak penerima  manfaat  program ini salah sasaran.

Sekretaris Pansus II DPRD Kebumen  Aksin, pada rapat dengar pendapat umum raperda, Kamis (23/08/2018) mengungkapkan, subsidi angkutan umum gratis untuk masyarakat miskin penting dan didukung Pansus II.

Namun dalam pelaksanaanya masih banyak  penerima manfaat program itu salah sasaran. Karena itu, Pansus II meminta Dinas Perhubungan yang mengelola program itu, memperbaiki mekanisme penerima manfaat, seperti rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Rapat dengar pendapat umum yang dipimpin  Ketua Pansus II, Danang Adi Nugroho,  mengundang dinas teknis, pengusaha angkutan, pengurus organisasi angkutan, serta camat.

Menurut Aksin data penerima manfaat mestinya by name by addres, sehingga program dengan penerima manfaat untuk pelajar dari keluarga miskin, masyarakat miskin, serta usaha kecil menengah, benar benar tepat sasaran.

Kepala Seksi Angkutan Barang dan Orang, Dinas Perhubungan Kebumen, Eko Widiyantoro, mengatakan penyaluran kupon sebagai ganti pembayaran tunai kepada awak angkutan, sebelumnya melalui petugas Program Keluarga  Harapan (PKH) dan Tenaga Kesejahteraan  Sosial Kecamatan (TKSK). Terhitunga sejak sebulan lalu kupon dialihkan ke sekolah  tempat penerima manfaat sekolah.

“Guru bimbingan konseling yang mengetahui siswanya yang berhak, dan membutuhkan  kupon angkutan umum gratis,“  kata Eko  Widiyantoro.

Cara ini untuk mengurangi penerima manfaat salah sasaran. Penerima manfaat dari kalangan pelajar ada 7.300 orang lebih, sedangkan dari  kalangan warga miskin dan UKM  ada 3000 orang lebih.

Pelajar menerima 2 kupon tiap hari sekolah, warga 2 kali sepekan. Hingga awal Agustus 2018, anggaran program ini Rp 4 miliar, sudah dimanfaatkan Rp  1,6 miliar.

Slamet, awak angkutan pedesaan jurusan Kebumen – Krakal  yang mengikuti  program ini mengatakan awak angkutan tidak mengetahui penumpangnya miskin atau tidak.

Dirinya pasti tidak memungut biaya, jika penumpang menyerahkan kupon program ini. (sol)