Antologi Rumah Kita Tandai Tujuh Tahun Sastra Bulan Purnama

213
Yuliani Kumudaswari. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Peluncuran antologi puisi Rumah Kita pada Selasa (25/09/2018) pukul 19:30 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Sewon Bantul, menandai tujuh tahun usia Sastra Bulan Purnama yang rutin digelar setiap bulan.

Pada acara itu tampil lebih dari 20 penyair yang tinggal di beberapa kota, bahkan dari luar Jawa. Beberapa penyair yang puisinya masuk antologi Rumah Kita pernah tampil membaca puisi karyanya di Sastra Bulan Purnama.

Sebut saja nama-nama seperti Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Novi Indrastuti, Yuliani Kukudaswari, Ristia Herdiana, Daruz Armedia dan Daffa Randai.

Penyair yang ikut dalam antologi puisi Rumah Kita ini sebelumnya mengirim puisi dan ditayangkan melalui media online sastrapurnama.com, kemudian diterbitkan menjadi buku puisi.

Selain menulis puisi secara online para pennyair ini juga mengirimkan puisinya di media lain dan pernah diterbitkan dalam antologi bersama maupun antologi tunggal.

Selain tampil para penyair membacakan puisi, ada juga pertunjukan musik, oleh group Al Fine dan Sanggar Lincak. Tidak ketinggalan, Doni Onfire menggarap puisi karya Ristia Herdiana dan Yuliani Kumudaswari, dan ditampilkan pembaca tamu Novi Ananda.

Ristia Herdiana. (istimewa)

Koordinator Sastra Bulan Purnama Ons Untoro, mengatakan, selama tujuh tahun Sastra Bulan Purnama yang berlangsung tiap bulan purnama telah menampilkan banyak penyair dari berbagai kota.

Tidak hanya dari Yogyakarta tetapi datang dari Jakarta, Surabaya, Tegal, Purwokerto, Semarang, Kalimantan, Bekasi, Sidoarjo, Mojokerto, Magelang, Temangugung, Wonosobo, Solo, Sragen.

“Mereka yang pernah tampil tidak hanya membaca puisi, tetapi juga mengolah puisi karyanya menjadi lagu dan dinyanyikan seperti dilakukan Jodhi Yudono, seorang penyair dan wartawan dari Jakarta,” ujar Ons Untoro.

Penyair yang pernah tampil berasal dari generasi usia berbeda-beda. Ada penyair yang aktif menulis puisi sejak 1970-an seperti Yudhistira Adinugroho, Iman Budi Santisa, Landung Simatupang, Noorca Massardi, Adri Darmadi Woko, Hendrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie.

Novi Indrastuti. (istimewa)

Ada juga penyair yang sejak petengahan 1960-an sudah menulis puisi seperti Gentong Hariono, Teguh Ranu Sastroasmara. “Ada penyair muda yang mulai tumbuh tahun 2000-an dan penyair generasi tahun 1980-an dan 1990-an,” ujar Ons Untoro.

Dari penyair yang pernah tampil, tidak hanya menampilkan penyair laki-laki, tetapi malah lebih banyak menampilkan penyair perempuan, yang mulai rajin menulis puisi sejak maraknya media digital.

Para penyair perempuan ini selain rajin menulis puisi, kesehariannya diikat oleh pekerjaan, bukan hanya sebagai ibu rumah tangga, tetapi ada yang sebagai dosen, dokter, guru dan lainnya.

Antologi puisi Rumah Kita diambil dari judul puisi karya Ristia Herdiana. Ini karena Sastra Bulan Purnama merupakan rumah bersama untuk menumbuhkan kreativitas di bidang sastra dan menjali persaabatan di antara penyair yang tinggal di kota-kota berbeda.

Tiga di antaranya penyair perempuan yang hadir dan membacakan puisi karyanya adalah Ristia Herdiana (Jakarta) dan Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo) serta Novi Indrastuti dari Yogyakarta. (sol)