APBN Jadi Sumber Utama Pendanaan Politik

Orasi Ilmiah Prof Dr Mohammad Mohtar Mas'oed di Sekolah Pascasarjana UGM

90
Prof Dr Mohammad Mohtar Mas'oed menerima cenderamata dari Prof Ir Siti Malkhamah MSc Ph D, usai menyampaikan orasi ilmiah. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Ada anggapan, sistem demokrasi dan politik di Indonesia sekarang ini berbiaya sangat mahal dan cenderung menguras uang negara. Penilaian tersebut tidak salah. Sampai saat ini, anggaran belanja negara masih menjadi satu-satunya sumber utama pendanaan politik.

Setidaknya realitas tersebut juga diungkapkan oleh Prof Dr Mohammad Mohtar Mas’oed dari Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM) tatkala menyampaikan Orasi Ilmiah Menjaga Kepercayaan Publik terhadap Demokrasi di Era Post-Truth, menandai Puncak Peringatan Dies Natalis ke-35 Sekolah Pascasarjana UGM, Jumat (07/09/2018), di kampus setempat.

Di hadapan Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Prof Ir Siti Malkhamah MSc Ph D beserta jajarannya serta para mahasiswa, dengan gaya khasnya penuh candaan, Mohammad Mohtar Mas’oed, membeberkan kondisi perpolitikan di negeri ini. “Di Indonesia ini tidak ada sumber dana politik yang besar kecuali APBN,” ungkapnya.

Baca Juga :  Kapolda Tak Bisa Loloskan Peserta
Potong tumpeng menandai puncak acara Dies Natalis ke-35 Sekolah Pascasarjana UGM, Jumat (07/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Dengan kata lain, hampir semua partai politik (parpol) tergantung dari dana APBN. Sekali lagi sambil bercanda, dia belum melihat ada parpol yang melakukan urunan, hal itu sepertinya hanya terjadi di lembaga RT (Rukun Tetangga).

Fakta terbaru yang cukup membuat dirinya terusik adalah fenomena korupsi yang dilakukan oleh para politisi di DPRD Kota Malang Jawa Timur. “Saya jadi tersinggung. Itu kota saya,” kelakarnya disambut tawa.

Dia berpendapat, secara umum terdapat tiga kualitas politisi. Pertama, passion, yang bersemangat mengabdi untuk suatu tujuan. Kedua, a feeling of responsibility, mengejar tujuan dituntun oleh tanggung-jawab.

Ketiga, a sense of proportion, yakni punya kemampuan menghadapi realitas dengan konsentrasi dan pikiran yang tenang serta kemampuan untuk “ambil-jarak” terhadap obyek.

Lebih lanjut Mohtar Mas’oed memaparkan ketika publik yakin apa yang dikatakan politisi bukan hal yang sesungguhnya, mereka tidak tertarik mendengarkan atau menanggapinya. Artinya, publik kehilangan kepercayaan pada nilai democratic citizenship.

Pimpinan dan staf Sekolah Pascasarjana UGM foto bersama usai puncak acara Dies Natalis ke-35. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Fenonema itu sama dengan munculnya media sosial (medsos) yang cenderung tanpa identitas kemudian mencoba menantang “media lama” seperti TV, radio dan koran.

Baca Juga :  RS Siloam Sediakan Konter Khusus untuk Peserta Mandiri Inhealth

Bagaimana pun, pelaku amatir tidak mampu menggantikan peran para ahli. Selain terkait persoalan etika juga menyangkut akuntabilitas.

Rangkaian Puncak Peringatan Dies Natalis ke-35 Sekolah Pascasarjana UGM selain diisi orasi ilmiah, juga diserahkan berbagai hadiah untuk pemenang lomba dan pemotongan tumpeng sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam kesempatan itu, Dekan Sekolah Pascasarjana UGM Prof Ir Siti Malkhamah MSc Ph D, menyampaikan paparan seputar program-program yang telah dilaksanakan selama ini. (sol)