Teror Pesanan Makanan Ancam Bantul

235
Warung sate “Kang Tego” di Kedungbule, Desa Trimurti, Srandakan yang menjadi korban pesanan fiktif, Kamis (12/10/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Teror makanan terjadi di Bantul beberapa waktu terakhir. Sejumlah instansi tiba-tiba mendapatkan kiriman makanan dari  restoran atau warung tanpa ada yang memesan.

Kejadian terakhir terjadi di kecamatan Srandakan, Kamis (12/10/2017). Seharian kantor kecamatan diteror pesanan.

Kamis pagi, ada pihak mengaku kecamatan pesan snack 16 dus. Siang harinya, kecamatan tersebut mendapat kiriman 16 mangkok bakso. Belum habis, sore harinya sate ‘Kang Tego’ 12 porsi komplit dengan nasi dan air mineral botol dikirim ke kecamatan tersebut.

Dua pesanan pertama sudah siap dikirim ke kecamatan. Namun saat dikonfirmasi ke kecamatan tersebut, ternyata tidak ada pesanan sehingga pesanan batal dikirim.

Namun sate ‘Kang Tego” terlanjur sudah dikirim Ny Parinah (50) bersama anaknya ke kecamatan. Parinah kebingungan karena pihak kecamatan ternyata tidak memesan.

“Saya awalnya terima telpon pesanan sate 12 porsi komplit dan air mineral botol tanggung. Total habis Rp 260.000, namun ternyata pak camat maupun staf kecamatan tidak ada yang pesan,” katanya.

Di saat yang bersamaan ada anggota DPRD Bantul, Supriyono yang sedang mengurus surat domisili partai, dan akhirnya diambil jalan tengah Camat Drs Sukirno membayar pesanan tersebut.

“Saya memang tidak sempat konfirmasi, karena yang pesan itu bolak balik ngebel kesini, jadi segera saya buatkan sekitar jam 1400 WIB. Nah waktu sate sudah dikirim, dan saya sampai kecamatan, nomor hp pemesan sudah tidak bisa dibubungi,” katanya.

“Saya kasihan Pak Camat akhirnya harus membayar,” kata Ny Parinah yang mengaku sudah buka warung empat tahun dan baru pertama kejadian.

Mensikapi hal itu, ke depan jika ada pesanan via telpon dirinya akan melakukan konfirmasi terlebih dahulu.

Sukirno ketika dikonfirmasi mengaku tidak memesan makanan. Begitupun para staf saat apel sore dikumpulkan tidak ada yang pesan katering dimaksud.

“Sudah saya kumpulkan semua staf, tidak ada memang,” katanya.

Kasus ini selanjutnya ditangani oleh Polsek Srandakan. Panit II Reskrim,Ipda Deni Ismail SH mengatakan anggotanya diminta segera mengumpulkan data-data terkait kasus tersebut.

“Termasuk juga mendatangi rumah makan yang jadi korban. Hingga kini motif masih dalam penyelidikan aparat,” ungkapnya.

Kejadian nyaris sama juga menimpa Polsek Sedayu Bantul. Sebulan lalu mereka menerima kiriman dari RM di Srontakan, Desa Argomulyo berupa nasi lele puluhan dus. Padahal Polsek kala itu tidak memesan.

“Dua pekan lalu juga ada kiriman puluhan nasi dus dari RM Candi Mas. Kami tidak merasa memesan makanan tersebut, karena memang tidak ada kegiatan juga pada hari itu,”kata Panit I Bhinmas Polsek Sedayu Iptu Agus Supraja SH.

Kejadian yang menimpa RM Candi Mas bukan pertama kalinya. Sebelumnya mereka pernah mengalami kasus serupa.  Karenanya Supriyono berharap kepada aparatur
pemerintahan serius mensikapi hal itu. Karena jika tidak, masyarakat pemilik catering akan  menjadi korban.

“Saya mengusulkan ada surat edaran terkait soal ini. Bisa surat itu dibuat oleh camat,” katanya.

Para pemilik usaha katering juga akan dikumpulkan dan diberikan sosialisasi mengenai maraknya kasus pesanan fiktif. Sehingga jika ada order mereka bisa melakukan cek dan ricek secara mendalam agar tidak terkena teror pesanan. (yve)