BPBD Purworejo mensiagakan Petugas dan Relawan untuk bersiap menghadapi musim hujan. (hery priyantono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Turunnya hujan pada fase peralihan musim kemarau dan musim penghujan, patut menjadi perhatian seluruh masyarakat. Khususnya mereka yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan yang masuk dalam zona daerah rawan bencana tanah longsor.

Hal ini disikapi oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo, Boedi Hardjono. Ditemui Koran Bernas di kantornya, Selasa (26/09/2017), Boedi mengungkapkan seringnya terjadi bencana tanah longsor pada awal datangnya musim penghujan.

“Mengapa hujan-hujan di awal musim tiba patut menjadi kewaspadaan, sebab selama musim kemarau kondisi tanah kering dan berbongkah. Retakan atau bongkahan tanah itulah yang menyebabkan munculnya celah untuk masuknya air,” jelas Boedi.

Saat air hujan apalagi dengan intensitas yang tinggi turun dan masuk ke tanah melalaui celah-celah bongkahan, bebernya, tanah sangat rawan hancur dan bisa mengakibatkan longsor.

Baca Juga :  Ratusan Penambang Pasir Kali Progo Protes

Pengalaman terjadinya bencana tanah longsor yang menewaskan sedikitnya 46 jiwa di beberapa desa di Kecamatan Purworejo, Loano dan Kaligesing pada Juni 2016 lalu, dimana hujan turun diawal musim, cukup menjadi pengalaman pahit bagi masyarakat Purworejo.

“Seingat saya, kejadian bencana longsor 2016 lalu, sebelum kejadian, kondisi tanah kering disebabkan oleh musim kemarau. Begitu hujan turun, kemungkinan kondisi tanah telah labil, sehingga air dengan leluasa menghanyutkaan tanah di perbukitan dan berdampak tertimbunnya pemukiman warga saat itu,” terangnya.

Pihaknya menghimbau kepada masyaralat agar mewaspadai turunnya hujan pada masa peralihan seperti sekarang ini. Lebih-lebih wilayah Kabupaten Purworejo dua hari terakhiir ini sudah mulai mengalami turun hujan. Sehingga warga yang berada di wilayah rawan bencana, diminta untuk mewaspadai gejala alam itu.

Baca Juga :  Perluasan Potensi Lahan Tingkatkan Ketahanan Pangan

Terpisah, Kasi Kedaruratan BPBD Purworejo, Sigit Achmad Basuki, mengaku sudah bersiap dengan peralatan yang dimiliki kantornya.

“Waspada dan menyiapkan diri, khan lebih baik, sebelum kejadian. Artinya kami bukan berharap adanya bencana, tapi kami lebih kepada upaya menjalankan tugas dan kewajiban kami sebagai satuan pelaksana (satlak) penanggulangan bencana alam,” ungkap Sigit, Selasa (26/09/2017).

Kabupaten Purworejo sendiri sudah beberapa kali mengalami musibah bencana alam dengan korban jiwa mencapai ratusan jiwa meninggal dunia dan luka-luka.

“Dari 16 kecamatan yang ada sebanyak 13 kecamatan adalah daerah rawan bencana alam,” ucapnya. (yve)