Bahaya, Vasektomi karena Faktor Insentif

249
Pembukaan workshop Kesehatan Reproduksi dan Penguatan Kapasitas Motivator KB Pria, Minggu (13/05/2018), di Hotel Phoenix Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Usaha membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) harus dimulai dari keluarga. Caranya dengan mempersiapkan remaja menikah mengacu pada kesehatan organ reproduksi yang benar-benar siap.

Anak-anak yang dilahirkan oleh wanita belum cukup umur dengan organ reproduksi yang belum siap, akan menimbulkan berbagai masalah.

Di antaranya makin banyak stuntent, anak yang terhambat tumbuh kembangnya secara fisik maupun kecerdasan otaknya,  sehingga tidak mampu tumbuh sebagai generasi berkualitas. Selain itu, juga akan menimbulkan masalah psikologis dan sosial bagi ibunya.

Hal itu disampaikan Deputi Keluarga Berencana Kesehatan Reproduksi (KB-KR) BKKBN Pusat, Ir Dewi Listyawardani MSc Dip Com, di depan peserta Workshop bagi Pengelola Program KB-KR dan Penguatan Kapasitas Motivator KB Pria Bersama Mitra Kerja, Minggu (13/05/2018) malam, di Hotel Phoenix Yogyakarta.

Baca Juga :  Empat Korban Kerusuhan Rutan Mako Brimob Dimakamkam

Menurut dia, semua pihak harus menolak pernikahan anak-anak karena bisa memicu meningkatnya kematian bayi maupun ibu melahirkan. Selain itu, dikhawatirkan pula meningkatnya kecenderungan aborsi ilegal yang membahayakan.

Dewi mengatakan, remaja harus diperkenalkan pada kesehatan reproduksi, agar dalam perjalanannya paham dan berhati-hati menjaga alat reproduksinya.

Ini bisa dilakukan secara lebih intens saat remaja siap memasuki jenjang pernikahan. Termasuk pola pengasuhan anak setelah anaknya lahir kelak, di antaranya  memahami pentingnya memberikan air susu ibu (ASI) selama dua tahun.

Peserta workshop Kesehatan Reproduksi dan Penguatan Kapasitas Motivator KB Pria mendengarkan penjelasan. (arie giyarto/koranbernas.id)

KB Pria

Berbicara mengenai kesertaan kaum pria ber-KB, Dewi mengaku masih rendah. Selain terbatasnya jenis alat kontrasepsi (alkon) pria, vasektomi memang diperuntukkan bagi pasangan yang sudah tidak menginginkan tambah anak.

Dia juga mengingatkan para motivator KB Pria untuk berhati-hati memotivasi. Sebab ada daerah yang tinggi angka kesertaan vasektomi karena faktor insentif.

Baca Juga :  Pamer Karya Siswa Tingkatkan Kepercayaan Diri

“Ini berbahaya. Pendekatannya bukan insentif tetapi masalah kesiapan seseorang untuk mengikuti vasektomi sebagai putusan terakhir dengan mantap setelah memenuhi berbagai persyaratan yang ditentukan,” kata Dewi.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya dibacakan Sekda Ir Gatot Saptadi  mengajak seluruh komponen masyarakat bersama-sama mengendalikan laju pertumbuhan penduduk.

Jumlah penduduk yang tidak terkendali akan menimbulkan banyak masalah sosial. Terbatasnya lapangan kerja menimbulkan pengangguran yang memunculkan berbagai tindak kejahatan. Makin menurunnya kesempatan anak-anak dan remaja mengenyam pendidikan dan sebagainya.

Workshop Kespro dan penguatan kapasitas motivator KB Pria berlangsung tiga hari dengan menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia serta dari BKKBN Pusat. (sol)