Bahkan Mendagri pun Sindir Pembangunan Hotel

141
Peserta Musrenbang RPJMD DIY Tahun 2017-2022 mendengarkan pengarahan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo.

KORANBERNAS.ID — Pesatnya pembangunan hotel di Yogyakarta sebagai konsekuensi logis dari Kota Pariwisata, tak luput dari perhatian Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo.

Bahkan dia pun sempat menyindir pembangunan hotel di kota ini tatkala menyampaikan pengarahan pada acara Musrenbang RPJMD DIY Tahun 2017-2022 di Hotel Grand Inna Malioboro, Rabu (31/01/2018).

“Jogja nggak perlu banyak hotel. Sing penting kos-kosane akeh,” ungkapnya di hadapan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wakil Gubernur DIY Paku Alam X beserta seluruh kepala dinas dan instansi se-DIY.

Soal maraknya hotel di Yogyakarta, hanya kalimat itu yang diucapkan Mendagri. Mengenakan busana batik lengan panjang, dia mengakui secara pribadi tidak bisa lepas dari Yogyakarta.

Tjahjo Kumolo juga mengakui meski lahir di Solo akan tetapi secara emosional sangat terikat dengan Kota Budaya, Kota Pendidikan dan Kota Pariwisata ini.

Baginya, Jogja itu kota yang selalu membuatnya rindu. ”Jogja itu ngangeni. Saya lahir di Solo dan eyang saya meninggal di Bausasran,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Mendagri menyampaikan banyak hal antara lain mengenai angka kemiskinan, ketimpangan sosial yang terjadi di DIY serta pencemaran.

Baca Juga :  Peserta Pacuan Kuda Kepang Wajib Tebar Pesona

Dia juga menyinggung soal optimalisasi pesisir pantai selatan, potensi bencana alam serta dinamika perkembangan masyarakat DIY maupun indeks pembangunan manusia (IPM) DIY tertinggi nomor dua setelah DKI Jakarta.

Prinsipnya,  guna membangun DIY seyogianya Pemda perlu melibatkan  perguruan tinggi, tokoh agama dan tokoh masyarakat. Dan yang tidak kalah penting adalah penyelarasan perencanaan pembangunan sesuai sasaran dan prioritas.

Sambutan Gubernur

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutannya Musrenbang RPJMD merupakan amanat dari Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017. Penyusunan RPJMD perlu mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan pembangunan.

Sultan mengapresiasi kehadiran Mendagri dengan harapan akan menjadikan kualitas Musrenbang RPJMD DIY Tahun 2017-2022 menjadi lebih baik lagi.

RPJMD DIY Tahun 2017-2022 merupakan penjabaran visi, misi dan program pembangunan daerah sekaligus sebagai cerminan dari tema visi dan misi yang pernah disampaikan Gubernur DIY di hadapan Sidang Paripurna DPRD DIY pada 2 Agustus 2017.

Adapun tema visi dan misi pembangunan tahun 2017-2022 yaitu  Menyongsong Abad Samudera Hindia untuk Kemuliaan Martabat Manusia Jogja.

Tema visi ini konsisten dengan semangat visi RPJMD DIY periode sebelumnya Among Tani Dagang Layar yang menitikberatkan pada pengembangan potensi wilayah selatan untuk mengurangi kemiskinan dan ketimpangan wilayah yang memang masih banyak dijumpai di wilayah selatan DIY.

Baca Juga :  Tak Gampang Kembangkan Agrowisata Buah

Sedangkan Kepala Bappeda DIY Tavip Agus Rayanto mengatakan selain angka kemiskinan yang perlu diwaspadai DIY adalah pengangguran dari kalangan terdidik.

Berdasarkan data, tingkat kemiskinan di DIY pada September 2017 sebesar 12,36 persen. Turun sebesar 0,66 poin selama setengah tahun. Garis kemiskinan di DIY pada bulan dan tahun yang sama sebesar Rp 396.271 per kapita per bulan.

Jumlah penduduk miskin mencapai 466,33 ribu orang. Sedangkan Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) pada periode Maret – September 2017 mengalami penurunan.

Hal ini mengindikasikan, rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung mendekati dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran antarpenduduk miskin juga semakin menyempit. Yang jelas, jumlah penduduk miskin di perkotaan lebih tinggi dibandingkan pedesaan. (sol)