Bakohumas Harus Cepat Merespons Hoaks

123

KORANBERNAS.ID — Anggota Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) harus  cepat responsif menghadapi informasi hoaks yang berkaitan dengan kebijakan dan tugas di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) masing-masing.

Selain itu,  anggota Bakohumas juga dituntut membangun opini publik yang positif di lingkup tugas dan pelayanannya. Mereka perlu membekali diri dengan kemampuan menulis rilis berita.

“Anggota Bakohumas pemerintah tidak bisa lagi berada di zona nyaman, tetapi berada di zona kekinian yang dinamis, didalamnya terdapat tuntutan untuk dapat bertransformasi ke dunia digital, lebih kreatif dan harus inovatif,” kata Ir Prayitno MSi, Kepala Bidang Humas dan Informasi Komunikasi Publik (IKP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga.

Pada pertemuan Bakohumas se-Jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, di Aula Dinkominfo Purbalingga, Selasa (12/12/2017), Prayitno menyampaikan materi Cek dan Ricek Informasi Hoak serta Peran Bakohumas dalam Menyikapi Informasi Hoak.

Ikut memberikan materi pula dalam kesempatan itu,  Ryan Rachman SS, jurnalis Suara Merdeka, yang mengupas materi Teknik Menulis Rilis.

Prayitno menyebutkan, berdasar data Digital in 2017 Global Overview, dari jumlah penduduk Indonesia sekitar 262 juta jiwa, sebanyak 132,7 juta penduduk di antaranya aktif  menggunakan internet.

Dari jumlah pengguna internet itu, sebanyak 106 juta atau 40 persen dari penduduk  Indonesia aktif di sosial media, 78 juta aktif menggunakan facebook. Sementara data penggunaan telepon selular tercatat 371,4 juta atau satu orang bisa menggunakan lebih dari satu telepon selular.

Baca Juga :  Ini Cara Anak-anak Sambut Ramadan Ramah Lingkungan

“Semakin banyaknya masyarakat yang melek teknologi informasi, seperti internet dan media sosial, menuntut kepiawaian insan Bakohumas pemerintah untuk terus berinovasi. Apabila Bakohumas Pemerintah sebagai pengelola informasi dan komunikasi publik, tidak kreatif dan inovatif maka akan ditinggalkan oleh masyarakat,” tegas Prayitno.

Budaya manual

Dia menegaskan, anggota Bakohumas tidak bisa lagi terpaku kaku dalam budaya manual, tetapi harus segera bertransformasi ke budaya digital.

Humas Pemerintah tidak bisa lagi mengelola komunikasi publik dengan cara-cara biasa, tetapi harus semakin kreatif dan inovatif.

Sudah saatnya anggota Bakohumas pemerintah melakukan transformasi digital melalui  pendekatan pengelolaan konvensional ke multidemisional dengann prinsip multimedia, multi chanel, serta multi platform. Jangan canggung mengunakan tool yang ada dalam mengakses dan mendiseminasikan informasi.

Anggota Bakohumas tidak bisa lagi berpuas diri dengan capaian kinerja saat ini, tetapi harus terus memacu diri untuk meningkatkan kapasitas dan kompentensi seiring dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Pendekatan one way traffic yang saat ini masih seringkali dilakukan, saatnya diubah ke pola pendekatan two way traffic berbasis elektronik.

Baca Juga :  Senam Gemufamire Tingkatkan Pola Hidup Sehat

“Hal itu diperlukan agar mampu memenuhi common interest, yakni mempertautkan dan mempertemukan kepentingan pemerintah dan masyarakat secara cepat,” tegasnya.

Prayitno juga mengajak anggota Bakohumas untuk menyikapi informasi hoaks dengan memberikan informasi yang berkualitas kepada publik.

Bakohumas harus rutin mengumpulkan informasi hoaks, baik sebatas lama situs, pesan berantai atau gambar yang dijadikan basis data informasi.

Bakohumas di masing-masing OPD membuat kelompok netizen sebagai mitra penanganan informasi hoaks dengan melakukan klarifikasi dan konter berita secara benar.

“Bakohumas juga perlu menyadarkan masyarakat melalui literasi serta komunikasi dua arah dalam bermedia sosial, sehingga hoak yang tersebar bisa dilawan dengan cara memberikan informasi yang sebenarnya. Gunakan media sosial dua arah yang cenderung ngobrol dan nonformal,” katanya.

Sementara Ryan Rachman mengupas dan memberikan strategi mudah dalam menulis rilis berita. Yang utama, harus memahami apa yang akan ditulis, kemudian kaitkan dengan kaidah penulisan rilis yang meliputi unsur 5 W (what, who, why, when, where) dan 1 H (how).

“Tulislah sesegera mungkin, jangan menunggu hari esoknya. Karena rilis berita yang basi akan tidak digunakan oleh media. Teruslah belajar menulis, jangan takut memulai. Menulis itu ibarat orang berenang, kalau sudah bisa, akan terbiasa, mengalir begitu saja,” kata dia. (sol)