Baku Dorong Warnai Pemagaran Calon Lokasi Bandara

217
Suasana pemagaran calon lokasi NYIA di Kulonprogo yang mendapat penolakan warga. (Sri Widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Pekerjaan pemagaran areal calon Bandara Kulonprogo, Rabu (11/04/2018)  berjalan tegang. Pemagaran ini, menyambung pagar yang sudah terpasang terlebih dulu di Sidareja Glagah.

Seperti diketahui, sekeliling areal calon Bandara Kulonprogo ini dipasangi pagar besi. Pekerjaan ini sebenarnya hampir selesai dan tertutup semua. Hanya di lahan milik warga yang semula menolak bandara yang belum terpagari. Setelah peralihan tanah melalui konsinyasi, maka kemudian PT Angkasa Pura mulai memagari.

Akan tetapi warga bertahan tetap menolaknya. Sejak pemasangan benang garis untuk pagar warga sudah menolak. Dengan caci maki dan kata-kata kasar, beberapa warga merintangi pemasangan benang ini.

Puncak keributan terjadi, ketika dilakukan pemasangan material pagar besi di pekarangan milik Tri Marsudi. Sekitar 50 warga terdiri dari pria dan wanita mencoba menghalangi pemasangan pagar besi. Sehingga kemudian terjadi aksi dorong antara warga dengan petugas yang mengawal pengerjaan pemagaran ini.

Dalam aksi dorong mendorong ini beberapa warga berteriak-teriak histeris. Bahkan kemudian seperti orang kesurupan. Tiga orang yang kesurupan ini kemudian ditolong kawan -kawannya.

Ibu-ibu dalam aksi dorongan terlihat  tak kalah gigihnya dengan suami mereka. Ibu-ibu tak ragu ragu mendorong petugas Sabhara Polres. Sebaliknya, petugas polisi ini yang jadi kikuk mendapat serangan dari kaum perempuan. Sehingga kemudian didatangkan satu regu polwan dari Polres Kulonprogo.

Kabag Operasional Polres Kulonprogo, Kompol Sudarmawan mengatakan, pihaknya menjalankan pengamanan kegiatan itu berdasarkan permohonan dari pihak PT Angkasa Pura I dan AP Property.

Diakuinya, saat pekerjaan dilakukan, warga sempat berusaha menghalangi petugas pemasangan dan langkah persuasif dari polisi tak digubris.

“Kami hanya mendorong warga agar menjauh dari lokasi pekerjaan supaya tidak terluka oleh besi pagar. Secara umum pekerjaan berjalan lancar,” kata Sudarmawan.

Sebanyak 100 personel diterjunkan untuk mengamankan kegiatan pemagaran lahan tersebut. Termasuk juga polisi wanita (polwan), karena beberapa warga penolak merupakan kaum perempuan.

Sudarmawan mengimbau warga agar menempuh jalur yang sesuai untuk menyampaikan aspirasi.

“Jangan pakai cara melawan hukum. Ketika pagar sudah berdiri, mari dijaga bersama. Jika dirusak maka akan masuk ranah pidana dan bisa diproses,”katanya.

Arief Budiman Project Manager Pemagaran Lahan Bandara dari PT AP Property menyatakan pihaknya menargetkan pemagaran segera selesai.

“Saat ini kami lakukan pemagaran di wilayah yang bermasalah. Kondisinya begini (ditolak warga-red),  namun kami menjalankan perintah dari dari  kantor yang menyebut bahwa urusan lahan sudah selesai per 29 Maret,” jelas Arief Budiman.

Dikatakan, dari panjang 16 kilometer tepian lahan yang harus dipagari, saat ini hanya tersisa sekitar 500 meter yang berada di area warga penolak bandara.

“Mudah-mudahan dalam 2-3 hari ini bisa selesai. Termasuk pemasangan kawat berduri di atas pagar besi itu,”ujarnya. (SM)