Bali dan Tokyo, Masih Jadi Buruan Pelancong Indonesia

187
Ilustrasi. (suarasurabaya.net)

KORANBERNAS.ID—Bali dan Tokyo, masihdaerah tujuan wisata utama para pelancong Indonesia untuk melewatkan liburan-liburan panjang menjelang  Ramadan 2018. Bali mewakili sejumlah destinasi utama di dalam negeri. Sedangkan untuk tujuan wisata manca, Tokyo lah yang paling populer.

Inilah hasil riset yang dilakukan oleh situs pemesanan online global Agoda. Dalam rilisnya, Agoda menyebut para responden masih menjadikan Bali sebagai tujuan favorit.

“Pastinya pulau Bali muncul sebagai pemenang bertengger di nomor satu sebagai destinasi yang paling banyak dituju oleh wisatawan Indonesia pada kedua hari libur 1 dan 10 Mei. Tempat lainnya dalam negeri termasuk Yogyakarta (#3), Bandung (#6) dan Jakarta (#8),”kata Patricia Muljadi dari Agoda, dalam rilisnya, Senin (01/05/2018).

Sebagaimana diketahui, awal Mei ada dua hari libur yakni Hari Buruh 1 Mei, yang disusul dengan hari besar Kenaikan Isa Al Masih 10 Mei dan di akhir bulan ada Waisak 29 Mei.

Riset terbaru dari situs ini menyimpulkan, setelah Bali, para pelancong masih melirik sejumlah kota yang dinilai menarik, yakni Yogyakarta dan Bandung serta beberapa ibukota negara tetangga, yang memprioritaskan Tokyo di peringkat pertama, disusul kemudian Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok. Serta Hong Kong dan Seoul.

Baca Juga :  Didi Kempot Terima Penghargaan dari Stipram

Deretan ibukota mancanegara ini menawarkan beragam pengalaman dari mulai berbelanja, petualangan kuliner hingga sekadar menikmati cantiknya permainan lampu kota metropolitan di petang hari.

Riset Agoda menunjukkan, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 malam saat berlibur di Tokyo.

“Cukup panjang. Hal inilah yang menyebabkan pelancong kebanyakan memilih tempat menginap yang dekat dengan kota. Tapi tetap menawarkan suasana nyaman dan berbeda seperti misalnya hostel Citan,” terang Patricia.

Saat ini, wisatawan tidak lagi menjadikan hotel sekadar tempat menginap. Menurut riset ini, banyak hal yang ingin dirasakan pelancong dari tempat dimana mereka menginap selama berwisata. Selain kenyamanan, keramahtamahan petugas serta kreativitas dari manajemen menjamu tamu menjadi faktor penting.

“Tidak mengherankan, hotel-hotel di kota-kota yang kaya dengan kultur misalnya, menjadikan asset ini sebagai sajian tambahan yang menarik. Di Jogja misalnya, sejumlah hotel sengaja menyajikan aktivitas ringan seni dan budaya sebagai selling point,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pendar Warna Warni Sungai Kapuas yang Mempesona

Trik memanfaatkan potensi di lingkungan menurut Patricia agaknya banyak menolong dunia perhotelan untuk menggaet tamu. Di Thailand, persoalan belanja dan wisata kuliner menjadi target utama wisatawan.

Hal yang sama juga terlihat di Kuala Lumpur. Salah satu destinasi terkuat di kawasan ini adalah lokasi wisata Bukit Bintang. Dengan atraksi yang menarik adalah menikmati view Bukit Bintang dari ketinggian hotel.

“Kami rutin melakukan riset-riset kecil seperti ini untuk melihat tren atau kecenderungan dari wisatawan yang mengakses situs kami. Ini penting, karena saat ini wisatawan bisa mendapatkan kemudahan mengakses informasi tujuan wisata termasuk bagaimana memilih moda transportasi terbaik dan akomodasi terbaik dari setiap lokasi wisata yang menjadi tujuan. Bahkan, kalau dulu ada yang menilai hotel hanya sebagai tempat bagi wisatawan untuk tidur, sekarang tidak lagi. Wisatawan juga berpikir bagaimana mereka bisa memperoleh pengalaman berbeda sekalipun sedang di hotel. Bisa menikmati atraksi ringan seni dan budaya, atau sekadar menikmati suasana kota atau alamdari roof top tempat mereka menginap,” pungkas Patricia.(*/SM)