Bambang Brodjonegoro Anggap Modal Sosial Ini Penting untuk Persatuan

136
Bambang Brodjonegoro memberikan pemaparan dalam Seminar Bertema "Harmoni dalam Keberagaman" dalam rangka Lustrum rangka Lustrum XIV SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Kamis (27/07/2018). (istimewa)

KORANBERNAS.ID—Jiwa dan semangat gotong royong, saling menghargai, jiwa toleran serta budaya musyawarah mufakat, perlu terus dipupuk dan dipelihara. Modal sosial inilah, yang menjadi kunci dari terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa.

Berbicara dalam seminar bertema “Harmoni dalam Keberagaman” dalam rangka Lustrum XIV SMA Kolese de Britto Yogyakarta, Menteri PPN/Kepala Bapennas Prof Bambang Soemantri Brodjonegoro mengatakan, kunci persatuan dan kesatuan Indonesia tersebut  adalah modal sosial yang dimiliki masyarakat.

“Ada perbedaan disana sini. Tapi perbedaan yang ada justru saling melengkapi dan tercipta harmoni dalam keberagaman,” terang Bambang.

Bambang mengakui, Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa meliputi bahasa, etnis, adat istiadat, budaya dan agama. Selain itu pemerintah Indonesia memilih sistem desentralisasi (otonomi daerah) yang memberi keleluasaan daerah-daerah untuk berkembang sesuai dengan karakteristik daerahnya.

Meski semangat kedaerahan berkembang di Indonesia, tapi nyatanya dengan semangat toleransi dan musyawarah, persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa tetap terjaga.

Baca Juga :  Pelatih Berdiri Ketika Ada yang Salah Pukul

Selain Bambang, seminar ini juga mengundang pembicara lain. Seperti anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Dr Ahmad Syafii Maarif dan Prof Dr Mahfud MD, peneliti senior Center for Strategic and International Studies (CSIS) Dr J Kristiadi, dan Dewan Pembina The Wahid Institute, Alissa Wahid. Sementara Mendikbud Muhajir Effendy tampil sebagai pembicara kunci.

Sejauh ini, modal sosial bangsa terbukti mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan. Namun menurut Syafii Maarif, negara dan bangsa ini perlu segera membumikan Sila Kelima Pancasila yakni  Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab menurut Buya, modal sosial yang dimiliki bangsa ini bisa rusak oleh ketimpangan yang semakin tajam.

Baca Juga :  Unik, Peramu Kopi Ini Selalu Bertelanjang Dada

Ketimpangan ini, menurut Buya Safi’I, menjadi isyu empuk yang dimanfaatkan pihak-pihak yang ingin membuat gaduh dan merongrong persaudaraan bangsa Indonesia. Karenanya, menjadi tugas semua pihak untuk berjuang mempersempit jurang ketimpangan dan mendorong keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

“Kalau keadilan sosial terwujud dan jurang ketimpangan bisa diperkecil, masalah-masalah kebangsaan akan dapat diselesaikan dengan baik,” lanjut Safi’i.

Sementara itu, Allisa Wahid mengatakan, intoleransi beragama dan terorisme menjadi tantangan demokrasi di Indonesia. Keduanya muncul karena dampak dari eksklusifisme beragama dan transformasi sosial serta konflik sosial di akar rumput ditambah berkembangnya paham ekstremisme.

“Penggunaan sentimen agama dalam politik juga menjadi tantangan demokrasi Indonesia,” katanya.

Sedangkan Mendikbud Muhajir Effendy mengapresiasi seminar yang mengangkat tema keberagaman. Menurutnya, sudah seharusnya  bangsa Indonesia menghargai keberagaman dan berharmoni dalam keberagaman tersebut.(*/SM)