Bangga dan Harunya Kibarkan Merah Putih di Merapi

289
Yokanan Slamet Riyadi di puncak Gunung Merapi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Mengibarkan bendera Merah Putih di ketinggian Gunung Merapi, pasti menjadi kebanggaan setiap pendaki. Hal itu pula yang dirasakan Yokanan Slamet Riyadi.

“Saya bangga campur haru,” kata Yokanan Slamet Riyadi menjawab pertanyaan koranbernas.id di RT 28 Kelurahan Sorosutan Yogyakarta, Kamis (17/08/2017).

Meskipun belum sampai ke puncak Merapi dan baru di Pos tiga dan butuh setengah sampai satu jam menuju puncak karena pertimbangan cuaca, dia sangat bangga. Namun aksi naik gunungan itu sebagai bentuk kecintaanya pada Indonesia dalam perayaan HUT ke 72 RI. Walau Yo dan komunitasnya masih melanjutkan pendakian sampai Pos 4, hal itu tak jadi masalah.

Awalnya dia bersama komunitas Cinta Adventure Tim (CAT) merencanakan naik ke Merapi tanggal 16 dan mengibarkan Merah Putih bertepatan dengan peringatan 72 tahun Kemerdekaan RI. Tapi berhubung Zaenuri, ketuanya sebagai salah seorang pemuka masyarakat di wilayahnya sibuk dengan kegiatan menjelang puncak acara, demikian juga anggota lain, akhirnya mereka ajukan aksi tersebut tanggal 12 sampai 13 Agustus 2017.

Berangkat dari base camp Sapuangin, Klaten lantaran jalur Kinahrejo dari rumah Mbah Maridjan sudah hilang tersapu erupsi beberapa tahun lalu. Pendakian yang melewati sebagian malam itu harus dilakukan super hati-hati meski setiap 100 meter ada petunjuk arah berupa pralon bertulis. Sebanyak 54 orang berangkat ke Merapi, jadi kalau pendaki tidak menemukan pralon berikutnya, ada dua kemungkinan. Kalau tidak pralonnya diambil orang iseng, ya pendaki tersesat jalan.

Tiba di pos 4 pada dinihari, Yokanan dan teman-teman bisa menikmati pemandangan luar biasa. Di antara sejuknya udara pegunungan, mereka perlahan-lahan melihat matahari bangkit dari tidur. Langit timur indah semburat merah, akhinys muncul “lukisan alam” luar biasa indahnya.

Baca Juga :  Wanita Jaman Now, Tak Takut Jadi Supir Taksi Online

“Moment itu yang ditunggu kebanyakan pendaki. Tetapi kalau sudah pukul 09.00, suasana berubah panas sekali,” kata Yo.

Di puncak Merapi, meski merupakan lautan pasir yang mulai memantulkan panas sinar matahari namun rasanya bahagia sekali.

Ketahanan Kaki dan Fisik
Komunitas pendaki tersebut sebenarnya sudah beberapa waktu berdiri. Mereka terdiri karyawan Cendana, dealer Honda di Jalan Parangtritis Yogyakarta. Awalnya bernama Cendana Adventure Team. Tetapi seiring berjalannya waktu, ada beberapa personal tidak lagi bekerja di sana, akhirnya nama berubah menjadi Cinta Adventure Team. Namun singkatannya tetap CAT.

Idenya berawal dari keinginan untuk mencari kegiatan yang bermanfaat, tidak hanya menjual. Akhirnya muncul rafting di sungai, dan gowes. Ini penting untuk membangun ketahanan kaki dan tubuh. Kebetulan salah seorang karyawan punya hobi mendaki gunung. Akhirnya dengan bekal teori dan pengalaman yang ditularkannya, muncullah CAT.

Yang penting disiapkan, selain ketahanan fisik dan psikis, karena di ketinggian sering orang mengalami semacam disorientasi. Mendaki relatif lebih mudah, tetapi ketika turun menjadikan mereka gamang. Saat mendaki, konsentrasi hanya pada jalan setapak. Bila malam, sebatas yang terkena sinar batere. Tetap ketika turun siang hari, tiba-tiba melihat medan yang curam di depan, orang bisa menjadi gamang.

CAT sejak tahun 2015 sudah banyak melakukan pendakian khususnya gunung-gunung di sekitar DIY dan Jateng. Selain Merapi, juga Merbabu, Sumbing, Sindoro , Gunung Prahu di Banjarnegara dan Gunung Andong di seputar Ambarawa.

Baca Juga :  Ini Dia Jawaban yang Sempurna Saat Wawancara Kerja

Bekal logistik harus cukup. Selain air minum dan kelengkapannya, roti, coklat, mie instan maupun makanan lain yang dianggap penting, harus diperkirakan cukup selama pendakian. Parafin yang dulu dipakai sebagai pemanas makanan, kini sudah digantikan kompor gas mini sebesar HP, dengan gas dalam tabung sebesar tabung pylox sehingga tidak ribet membawanya.

Selain mendaki, kegiatan rutin adalah bersepeda tiap Rabu dan Sabtu. Sekitar waktu Subuh berkumpul di tempat sesuai kesepakatan dan gowes sampai pukul 08.00. Karena mereka tenaga marketinig di Cendana maupun di tempat lain, jam kerjanya lebih fleksibel. Setelah gowes, baru bekerja. Anggotanya bukan anak anak muda lagi, tetapi bersemangat muda. Zainuri 46 tahun dan Yokanan 42 tahun. Sedangkan anggota lain sudah berkepala tiga.

“Mendaki gunung, meski ada capeknya, tapi badan jadi bugar dan sehat. Bikin ketagihan,” kata Yo.

Karenanya mereka sudah merencanakan Oktober mendatang akan naik Gunung Lawu yang konon lebih banyak tantangan.

Mereka igin mengajak anak-anak mereka mendaki gunung. Selain untuk kebugaran, bisa menikmati keindahan alam, mendidik cinta lingkungan penting ditanamkan sejak awal.

Aristo, anak Yo yang masih di kelas 6 SD Sang Timur sangat antusias bersemangat mendengarkan cerita ayahnya soal itu. kata Nonik, sang ibu dari Aristo, anak semata wayangnya ini. Kapan belum ada rencana pasti. Tapi lokasinya menurut Yokana mungkin di Gunung Cikunir Dieng yang relatif pendek dan cocok untuk pembelajaran anak anak.(Arie Giyarto/yve)