Banten Berjaya di Paralayang Gunungkidul Open 2017

457
Salah satu atlet beraksi pada Paralayang Gunungkidul Open tahun 2017, Senin (28/8/2017). (st aryana/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Atlet dari Provinsi Banten, Agus Salim, berhasil menjadi juara pertama nomor lintas alam dalam kompetisi Paralayang Gunungkidul Open tahun 2017 yang dilaksanakan di Embung Batara Sriten, Desa Pilangrejo Kecamatan Nglipar, Gunungkidul.

Ketua Panitia Paralayang Gunungkidul Open 2017, Agus Ramli di lokasi lomba, Senin (28/8/2017) mengatakan, selama tiga hari lomba tim juri melakukan penilaian terhadap dua nomor lomba, yakni nomor lintas alam dan nomor ketepatan mendarat.

Pada lomba ini setiap peserta diminta menerbangkan paralayang dari puncak Embung Batara Sriten, menuju lapangan Wotgalih di Desa Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul, sejauh 4 kilometer dan tepat mendarat pada lokasi yang telah ditentukan.

“Penilaian terhadap peserta dilihat dari jangkauan peserta dalam lintas alam, serta ketepatan sasaran saat mendarat dalam nomor ketepatan mendarat,” tambah Agus Ramli.

Selain Agus Salim dalam nomor lintas alam, juara dua sampai juara lima diraih sesuai urutan, Noorman atlet paralayang dari Jawa Barat, Wahyu Pambudi dari DIY, Muhibin dari Jawa Tengah dan Elisa Manueke dari Jawa Tengah.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 30 atlet dari berbagai daerah di Indonesia menerbangkan paralayang dari atas Embung Batara Sriten, puncak tertinggi Kabupaten Gunungkidul. Puluhan pasang mata, menjadi saksi para atlet saling adu kebolehan dan kepiawaiannya dalam menerbangkan wahana dirgantara tersebut.

Paralayang Gunungkidul Open Tahun 2017, dilaksanakansejak Jumat (25/8) sampai Minggu (27/8). “Kegiatan Paralayang Gunungkidul Open 2017 pertama kalinya dilaksanakan di Gunungkidul,” tutur Agus.

Para atlet paralayang ditantang untuk dapat menerbangkan wahana dirgantara tersebut dari ketinggian 850 mdpl, melintas alam sejauh 4 kilometer dan mendarat di Lapangan Wotgalih, Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul.

Embung batara sriten dipilih karena lokasinya yang cocok sebagai wahana untuk paralayang, dengan ketinggian bukit yang hampir 900 meter di atas permukaan laut dan keberadaan angin yang mendukung penerbangang paralayang.

Sementara Kepala Desa Pilangrejo, Kecamatan Nglipar, Sunaryo, mengatakan, terselenggaranya acara Paralayang Gunungkidul Open 2017 ini adalah berkat swadaya masyarakat dan dukungan dari Pemkab Gunungkidul.

“Kami berharap dengan dijadikannya Embung Batara Sriten menjadi lokasi penerbangan Paralayang dapat juga menarik wisatawan untuk berkunjung. Sehingga wilayah zona utara Gunungkidul juga akan terus berkembang,” ujar Sunaryo.

Bupati Gunungkidul, Badingah, menuturkan, acara Paralayang Gunungkidul Open 2017 ini membawa dampak yang bagus untuk pengembangan paralayang Gunungkidul menjadi daya tarik wisata baru. Menurut Badingah, paralayang adalah olaharaga yang tergolong baru di Gunungkidul, dan perlu mendapatkan dukungan, mulai dukungan infrastruktur fisik untuk mendukung olahraga ini terus berkembang.

“Embung Sriten ini mulanya adalah tempat menyediakan air utuk masyarakat, namun dikembangkan menjadi wisata prospektif. Dengan adanya Paralayang ini maka dapat membawa dampak bagus kepada pariwisata di Gunungkidul, oleh karena itu, kegiatan ini akan rutin diselenggarakan,” ujarnya. (yve)