Batan Dipercaya Jadi Mitra IAEA

251
Ketua STTN Edy Giri Rachman Putra dan Sekjen IAEA Jean Albaye menyampaikan keterangan di STTN Batan Yogyakarta, Jumat (27/04/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Indonesia melalui Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) dipercaya menjadi mitra Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA). Adapun posisinya sebagai collaborating center pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) nuklir serta edukasi nuklir di kawasan Asia Pasifik.

Kesiapan ini ditunjukkan melalui Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Batan Yogyakarta dan Pusdiklat Batan yang memiliki fasilitas maupun sumber daya berpengalaman di bidang pengembangan SDM dan program pendidikan.

Sebagai wujud kesiapan tersebut, pada 16-27 April 2018, STTN Batan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Regional Training Course for Teacher. Kegiatan ini mengusung tema Memperkenalkan Iptek Nuklir di Sekolah Melalui Pendekatan Inovatif.

Kepada wartawan di sela-sela acara, Jumat (27/04/2018), Ketua STTN Batan, Edy Giri Rachman Putra, mengatakan STTN Batan dipandang IAEA siap menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Tahun lalu IAEA sudah melihat dan menilai saat mengadakan meeting di STTN, kemudian diputuskan untuk diusulkan kegiatan training bagi para guru di STTN,” kata Edy Giri.

Tujuan kegiatan ini untuk melatih para guru di bidang sains terutama sekolah menengah di negara-negara anggota IAEA. Diaharapkan pemahamaan mereka tentang topik iptek nuklir makin kuat, kemudian menyampaikannya ke para siswa melalui proses pengajaran yang efektif dan menarik.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya IAEA dalam membantu negara-negara anggotanya dalam mengembangkan tenaga kerja masa depan di bidang nuklir.

Pelatihan ini juga bertujuan membantu negara anggota IAEA dalam mengembangkan materi pendidikan dan pendekatan praktis untuk menyampaikan pengetahuan nuklir kepada generasi muda dengan metode yang populer dan efektif,” tambahnya.

Secara teknis kegiatan ini diimplementasikan melalui pengembangan keterampilan dan pengetahuan para guru di bidang iptek nuklir dan metode pengajaran interaktif.

Transfer pengetahuan

Outcome dari kegiatan ini, para guru yang lulus pelatihan dapat menjadi narasumber di tingkat nasional, kemudian bertanggung jawab mentransfer pengetahuan kepada guru lain melalui lokakarya nasional.

Pelatihan ini juga merupakan bagian dari kegiatan pengabdian STTN Batan kepada masyarakat dalam menyosialisasikan iptek nuklir. “Penyelenggaraan kegiatan ini berdampak secara nasional, regional, maupun internasional tentang STTN Batan sebagai institusi pendidikan tinggi khusus teknologi nuklir,” tambahnya.

Kepala Bidang Diseminasi, Pusat Diseminasi dan Kemitraan Batan, Dimas Irawan, mengatakan peserta kegiatan ini berasal dari perwakilan 16 negara Asia Pasifik.

Kegiatan ini pertama kali diinisiasi tahun 2014 dan Indonesia menjadi salah satu negara percontohan yang berhasil menerapkan program ini. Tahun ini, kegiatan diselenggarakan di Indonesia diikuti 16 negara,” kata Dimas.

Adapun negara-negara yang mengirimkan wakilnya antara lain Malaysia, Filipina, Kamboja, Thailand, Laos, Oman, Nepal, Srilanka, Mongolia, Pakistan, Yordania, Tiongkok, Vietnam, Myanmar, Lebanon dan tuan rumah Indonesia.

Sebagai negara percontohan, Indonesia sudah meraih sejumlah prestasi. Pertama, komitmen SMA Negeri 1 Tangerang Selatan untuk menyusun kurikulum khusus iptek nuklir yang dimasukkan sebagai materi pengayaan (enrichment) untuk siswa pada kelas cerdas istimewa.

Kedua, komitmen SMA Negeri 2 Tangerang Selatan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan Rencana Pokok Pembelajaran (RPP) materi iptek nuklir di sekolah dengan mempertimbangkan kearifan lokal, khususnya untuk meningkatkan kesadaran siswa terkait radiasi lingkungan, proteksi radiasi dan aplikasi radiasi.

Ketiga, penerbitan dua buku komersial oleh Guru SMA Negeri Surabaya berjudul Nuklir: Sahabat atau Musuh? dan Aku Pintar Nuklir, berisi materi pembelajaran iptek nuklir yang diserap dari materi Compendium serta Teachers Exchange Programme yang didanai oleh IAEA.

Keempat, pengenalan Compendium oleh Batan ke beberapa wilayah di Indonesia melalui aktivitas Edukasi Iptek Nuklir yang diperkirakan melibatkan lebih dari 250 guru dan 2.000 siswa.

Kelima, terpilihnya satu orang guru SMAN 2 Tangerang Selatan sebagai Expert IAEA dalam Regional Teachers Training di Filipina.

Sedangkan Sekjen IAEA Jean Albaye mengatakan, kerja sama ini meningkatkan ilmu di bidang energi sehingga muncul kesadaran menyikapi nuklir tidak sebagai bahaya tetapi untuk pertanian dan kesehatan.

Guru dipilih dengan pertimbangan merekalah yang mampu membangun pemikiran generasi muda terhadap teknologi nuklir, dengan begitu kepercayaan masyarakat terhadap energi nuklir semakin meningkat. (sol)

Baca Juga :  Pakan Ternak Gunungkidul dari Limbah, Seperti Apa?